Cipunclut Perpaduan Pas Antara Panorama & Kuliner

Sesaat setelah makan malam bersama di Cipunclut
Setelah selesai bermain air hangat di pemandian alam ciater, dan haripun perlahan mulai kelam, kamipun bergerak menuju Puncak Ciumbuleuit Utara, yang berjarak kurang lebih 7 kilometer dari pusat kota Bandung, di mana warga sekitar sering menyebut daerah ini sebagai punclut.

Karena letaknya yang strategis tidak heran kalau menjadikan daerah ini menjadi salah satu tujuan favorit di akhir pekan, apalagi dari kawasan cihampelas yang hanya berjarak kurang lebih 3 kilometer yang merupakan destinasi belanja yang di lanjutkan dengan menuju kawasan kuliner di daerah punclut ini, tidak heran jika di akhir pekan kawasan ini akan di penuhi oleh pengunjung, perpaduan antara udara yang segar serta panorama yang di tawarkan belum tentu di dapatkan di kawasan lain.


Udara di kawasan ini memang masih sangat segar dan sejuk, saat menjelang malam seperti sekarang, kami melihat pemandangan lampu-lampu Kota Bandung dari teimpat kami berdiri. Suasana dan pemandangan lampu-lampu kota dari ketinggian sangat indah dan romantis. Tidak heran bila setiap malam minggu, banyak pasangan muda-mudi yang datang dan menikmati pesonanya. Di tempat inilah pengunjung betul-betul dapat memahami, membuktikan sendiri, mengapa para ahli kerap menyebut Bandung sebagai mangkuk geografis.

Rombongan kami
Kamipun memesan makanan khas Sunda, nasi merah dan item menjadi rekomendasi kang Maman  yang mengajak kami yang kebetulan juga beliau seorang chef di sebuah cafe di kota Bandung, ikan bakar dan beberapa jenis makanan lainnya termasuk minumannya ikut kami pesan karena rombongan kami lumayan banyak.

Bandrek yang aku rasakan di sini lumayan nikmat hangat nya menjalar ke seluruh badan saat tegukan demi tegukan melewati kerongkongan ku, bundapun ikut merasakan hangatnya banderek kawasan punclut ini. Makan bersama malam ini sangat nikmat berkah yang di berikan oleh Allah memalui hangatnya pertemuan dan silaturahim.


Tempat kami makan dan rombongan
Terlihat juga di sepanjang jalan kawasan ini banyak yang menjual sate kelinci, yang menurut penjualnya bisa menjadi obat kejantanan dan kesuburan, tetapi aku sendiri tersenyum sambil menolak saat di tawari sate tersebut terbayang muka kelinci yang imut, telingannya yang panjang .

Pukul sudah menunjukan 9 malam, kamipun bergerak meninggalkan kawasan Punclut untuk kembali ke tempat kami menginap, saat bunda membayar seluruh makanan kami ternyata benar tidak mahal kurang dari 300 ribu yang harus kami bayar untuk orang sebanyak ini.

Lokasi Puncak Punclut
   

Lembang, Cipunclut, 0211, Dodi NP

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey