Antara Kereta Api Ekonomi, Knalpot Bajaj & Puncak Tugu Monas

Di kereta api ekonomi Kalimaya  jurusan Stasiun Kenceng - Stasiun Tanah Abang 
25-26 Agustus 2011 (Hari Ke 8-9)
Setelah selesai dari pantai karang bolong keesokan harinya,  kami berencana untuk ke Jakarta dengan tujuan Monas dan juga ke daerah Tambun, Bekasi ketempar salah satu kerabat dengan menggunakan Kereta Api ekonomi Kalimaya tujuan stasiun tanah abang .

Karena memang sebelumnya kami belum pernah menggunakan kereta api ekonomi jurusan  Krenceng - Tanah Abang ini. Pukul 5 pagi selesai sholat subuh kami sudah bertolak menuju stasiun kereta api krenceng dengan waktu tempuh +/- 20 menit dari rumah di pandawaan.

Angkot yang membawa kamipun melaju kencang di sela sinar matahari yang mulai bergerak naik, angkot silver ini beberapa kali berhenti untuk mengangkut penumpang yang mayoritas pedagang pasar ataupun masyarakat yang akan berbelanja ke pasar, setibanya di stasiun krenceng kami pun membeli ticket sebanyak 4 lembar dengan harga 5 ribu per orang.

Saat kereta api sudah berhenti di stasiun krenceng, kamipun mulai naik dan mencari tempat duduk, kondisi masih sepi dan lengang,  Ayuk  dan kakak pun masih senang, tetapi setelah tiba di beberapa stasiun pemberhentian keretapun mulai memadat dan saat tiba di  Stasiun Karangantu penumpang semakin menyesaki kereta.

Ini yang tidak terbayangkan sebelumnya, kalau saya sendiri dengan kereta kelas ekonomi sudah termasuk familiar terutama jurusan Bekasi - Jakarta karena 3 tahun tinggal dan kerja di Jakarta bukan waktu yang sebentar, tapi di luar dugaan saya untuk kondisi seperti ini juga terjadi untuk kereta api kalimaya rute Krenceng - Tanah Abang. Perasaan yang "bercampur aduk" saat di perjalanan takut membayangkan ada tindak kejahatan, adek nangis dan perasaan galau lainnya. Di tambah bau yang beragam dari mulai bau ketiak, bau badan, bau mulut, rokok, parfum, sayuran pedagang yang berbaur menjadi satu.

Tapi inilah yang menjadi pengalaman berharga bagi kami tentang  bagaimana kisrunya "transportasi massal" di negeri ini yang nggak bisa terlupakan. Di karenakan saya belum pernah mengajak keluarga untuk  naik kereta api ekonomi. Kakak juga sempat mewek saat botol minuman nya dan kantong makanan ayuk di ambil oleh seorang nenek-nenek tua yang duduk bersebelahan denganku, dan sang nenek makan dan minum dengan tenangnya.

Sambil berbisik bunda berkata :
"Biarin mungkin nenek nya haus dan lapar belum sarapan"bisik bunda ke kakak & ayuk.

Sesampai di stasiun tanah abang kamipun menyelusuri teras di stasiun dan karena adek yang mulai rewel kamipun naik angkot yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan pasar Tanah Abang, sebelumnya memang kami sudah berjanji dengan Abi & Umi dan temanya abi yang memang tinggal di Jakarta untuk bertemu di sana, pasar tanah abang sendiri bukan tempat yang kecil untuk di jelajahi, sehingga ayuk dan kakak yang sudah kecapekan pada tidur di selasar dekat pintu masuk blok F di temani oleh aku, abi dan temanya, sedangkan bunda dan umi masih mencari-cari barang belanjaan.

Ayuk & Kakak bersama keluarga di Tambun Bekasi
Sekitar pukul 5:00 sore maka kita pun menyudahi acara belanja-belanja di pasar tanah abang ini, kami ber 6 pun menuju ke jalan raya untuk menunggu bus dengan tujuan ke Bekasi, karena tujuan kita saat itu adalah ke daerah Tambun, Bekasi  yaitu tempat saudara dari datuk yang sudah lama tinggal di daerah tersebut. Bus mayasari baktipun menjadi pilihan kami dengan ongkos sebesar  6  ribu perorang yang hanya di bayar untuk 3 kursi karena kakak masih bisa untuk di pangku.

Setelah tiba di bekasi kamipun melanjutkan dengan transportasi ojek agar bisa cepat sampai ke perumahaan tersebut. Menggunakan angkot sebenarnya juga bisa tetapi masih harus berjalan kaki lagi untuk menuju perumahan kerabat tersebut. Kami di sambut dengan gembira karena kerabat datuk yang satu ini memang sudah lama tidak kembali ke kota Palembang, semenjak beliau merantau, menikah sampai saat ini belum pernah lagi untuk mudik ke Palembang, kami sempat mengobrol lumayan sampai larut karena lama tidak bertemu, dan tidak terasa waktu tidurpun sudah memanggil.

It's real bajaj... kanalpotnya itu bro.
Keesokan harinya rencana berangkat pada pagi hari dari Tambun, kami batalkan karena ada sesuatu dan lain hal, Umi dan Abi merubah rencana dan langsung menunju loket kramat jati di kawasan terminal rawamangun untuk membeli ticket dan membawa barang kami, sedangkan aku ingin memenuhi janji ke anak-anak untuk naik bajaj & naik ke puncak tugu monas yang sering kuceritakan selama ini, dengan transportasi seperti sore kemarin yang sama kamipun berangkat lumayan siang yaitu pada pukul 9 dari Bekasi.

Sesampainya di kawasan pasar tanah abang dengan leganya kami turun dari bus,  seperti sebelumnya yang sudah saya janjikan dengan anak-anak kalau di Jakarta akan naik "bajaj" atau "Bemo" karena selama ini anak-anak saya hanya mendengan cerita tentang bajaj dan keunikannya dari saya, karena memang anak-anak kami baru kali pertama ini ke Jakart. Hanya 10 ribu Rupiah yang di minta oleh abang bajaj untuk menuju Monas dengan irama knalpot khas sang bajaj mebuat kakak dan ayuk tertawa tebahak-bahak.

Ayuk berumur 7 tahun dan kakak berumur 3 tahun
Tidak sampai 5 menit bajaj yang kami tumpangi pun tiba di Monas, kamipun berjalan menyelusuri taman silang yang lumayan jauh, sempat beberapa kali kami berfoto disana, langsung antri untuk membeli ticket untuk ke "puncak", kami harus bersabar antri di elevator (lift) karena antrian saat itu cukup panjang dan cuaca juga mulai mendung saat ini.

Kamipun langsung mencari loket pembelian ticket, ternyata harus memasuki seperti trowongan bawah tanah baru bertemu tempat pembelian ticket dengan membayar 12 ribu Rupiah untuk 4 orang  (2 dewasa dan 2 anak-anak) kamipun langsung naik ke bagian cawan, setelah antri sebentar kamipun memasuki lift yang akan mengantar kami ke bagian puncak tugu monas. Lift yang berkapasitas 11 orang untuk sekali angkut. yang bisa membawa pengunjung menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat selama 15 menit dengan memasukan koin yang di beli seharga 2 ribu Rupiah.

Di Puncak Monas Bunda, Ayuk & Kakak
Adek dan kakak bergantian menggunakan teropong tersebut entah apa celoteh kakak yang bicaranya masih banyak belum ku mengerti, sebenarnya kami ingin berlama-lama di puncak tugu monas, tapi sayang saat itu cuaca yang kurang bersahabat membuat kami tidak bisa berlama-lama di Puncak Monas tersebut.

Selesai dari Monas kami langsung bergerak ke terminal bus Rawamangun  menggunakan taxi menggunakan taxi blue bird, karena dari sana si "Kramat Djati" sudah siap mengantar kami ke Palembang, dan liburan pun berakhir.

Di atas sang kramat Djati

See you in the next holiday 



Anyer - Jakarta, Monas, 0211, Dodi NP

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey