1.100 Kilometer Menuntaskan Tugas Negara Part 1


Kali  jarak  1.000 km lebih bakal kami tempuh, tugas negara yang di perintahkan oleh kantor untuk menyelusuri kawasan lintas barat dan lintas timur di tugaskan untuk mendata tentang salah satu jenis barang konsumsi masyarakat , perjalanan ini pun tidak ku lakukan sendiri tetapi bersama tim yang juga sudah di tugaskan dari kantor dan dengan seorang driver.

Pukul 8 pagi kamipun bertolak meninggalkan Palembang dengan tujuan OI, Prabumulih, Muara Enim, Lahat, Tanjung Enim dan Baturaja. Mobil pun bergerak perlahan menyusuri hitamnya aspal, anggota team yang sudah ku atur tugas masing-masing pun sudah siap, dari GPS & form pendataan, blackberry pun sudah siap seandainya sewaktu-waktu bos besar membutuhkan data untuk di kirim via internet.


Timbangan 32

Bentor salah satu angkutan di Indralaya, OI
Gerbang selamat datang dari kabupaten ogan ilir pun sudah kami lewati dan beberapa titik pendataan pun sudah kami lakukan, tujuan berikutnya adalah kota Prabumulih yang merupakan kota ke 2 yang harus kami datangi, perjalanan pun lancar tanpa hambatan, di sini pula kami mengisi amunisi untuk perut kami sebagai jatah makan siang di salah satu rumah makan sunda yang cukup terkenal dengan tahu renyahnya.



Setelah selesai makan siang kamipun melanjutkan perjalanan lagi, pendataan di kota ke 2 ini di lakukan tanpa ada hambatan begitu juga di kota ke 3 di daerah Muara Eenim, awan yang sedari tadi di gelayuti mendung akhirnya tumpah juga sepanjang perjalanan dari kota Prabumulih sampai ke perbatasan kota Muara Enim lebih banyak di hiasi dengan rinai air hujan.

Saat memasuki kota ke 3 yaitu Muara Enim, walaupun mendung masih menyelimuti kota ini tetapi hujan sudah tidak turun lagi, pendataan dan survey pun kami lanjutkan lagi, hanya ada beberapa titik kota ini yang kami lakukan pendataan, dan kamipun melanjutkan perjalanan ke kota yang ke 4 yaitu lahat.



Hanya kurang lebih 1 jam perjalanan kami ke kota Lahat dari kota Muara Enim, berpapasan dengan truk-truk pengangkut batu bara sedari dari kawasan Muara Enim tadi membuat kami harus extra hati-hati, di perjalanan tadi sempat terlihat beberapa truk yang mengangkut batu bara tampak terbalik di bahu jalan dan menumpahkan muatannya, di kawasan merapi banyak juga truk yang parkir sampai memakan badan jalan sekedar untuk menunggu muat barang dari tambang.


Bukit Selero
Sebelum memasuki kota Lahat kami sempatkan untuk berfoto dengan latar belakang bukit selero ini, masyarakat sekitar menyebut bukit ini dengan sebutan bukit telunjuk karena jika di lihat dari salah satu sisinya seperti jari telunjuk yang mengacung ke atas. Dan ada yang menyebutnya sebagai bukit jempol karena seperti tangan yang di kepal dengan jempol yang teracung, terserah mau menyebut apa atas nama bukit yang satu ini karan dengan adanya bukit inilah menjadi salah satu ciri khas kota Lahat. (Baca : Aku Dan Bukit Telunjuk Lahat).

Om Rafik  dengan bacground bukit selero
Perjalanan ini belum berakhir, karena masih ada 2 kota yaitu Tanjung Enim dan kota Baturaja sebelum kami mengakhiri tugas untuk hari ini, setelah selesai melakukan tugas di kota Lahat kamipun memutar balik ke arah Tanjung Enim.

Menyusuri jalan kecil dari Tanjung Enim ke Baturaja yang tidak sepi karena tetap beriringan dengan truck pengangkut barang dan bus penumpang, sempat juga terjadi kemacetan karena salah satu bus penumpang mengalami mogok, kalau sampe jatuh terguling bisa-bisa kejadian tidur di mobil saat jalan Indralaya Palembang macet bisa terulang kembali.


Sesampai di kota Baturaja malam pun sudah mulai turun, setelah berkeliling beberapa saat untuk penghimpunan pendataan akhirnya kamipun, menuju ke penginapan untuk melanjutkan tugas negara esok hari.

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey