Sungai Musi Dan Perahu Ketek, Sahabat Setia Yang Tak Terpisahkan


Hari ini pencarian data kami mulai kembali, tugas kantor yang sudah mendekati dead line, harus segera kami serahkan, kedepan perjalanan melelahkan Palembang - Lampung melalui lintas barat juga harus di tempuh setelah ini. 

Kali ini jalur sungai musi yang kami ambil, karena sebelumnya team lain yang bertugas di kawasan Banyuasin hingga ke Sungsang, Upang, Makarti, Karang Agung dan beberapa tempat lainnya sudah mendapatkan data. Kami yang baru menyelesaikan survey di kawasan arah sungai ogan, jembatan Musi II, Pulokerto masih harus melengkapi data tersebut dengan data perjalanan hari ini.

Bersama om Angga
Dari bawah jembatan Ampera kamipun menyewa angkutan air dengan tujuan berkeliling sungai musi, melintasi pulau kemaro, pulau salah nama secara PP, bersama om Angga dan om Rafik kami pun memulai perjalanan hari ini.

Matahari yang mulai menerpa kulit kami terasa hangat begitupun pantulan sinar matahari di air sungai musi yang berkilat-kilat, penelusuran di mulai dari bagian seberang ilir karena rencananya ada beberapa tempat yang akan kita datangi. Berbekal kamera digital dan beberapa kertas isian kamipun menyelusuri sungai yang membelah kota ini. 

Om Rafik yang mulai kepanasan
Kesibukan tampak jelas di sungai ini dari kegiatan bongkar muat barang, sampai hilir mudik perahu ketek mengantar penumpang dari seberang ilir ke seberang ulu atapun sebaliknya, tampak juga  kapal-kapal yang sedang sandar di sungai musi, memperhatikan kehidupan di sekitar sungai Musi seakan menapak tilas kehidupan masa lalu. Sungai sepanjang 720 kilometer dengan lebar 300 meter hingga 2,1 kilometer ini menorehkan sejarah panjang mulai dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Palembang Darussalam, hingga masa kolonial Belanda. Sejumlah benda peninggalan ditemukan dari tepian di hulu hingga hilir sungai.

Banyaknya kampung etnis yang tersebar di tepi sungai menandakan maraknya pendatang yang berdagang menggunakan jalur Sungai Musi. Ada Kampung Kapitan yang merupakan jejak peradaban Tionghoa di Palembang dan ada juga Kampung Arab  Sungai Bayas, 13 Ulu atapun perkampungan Assegaf. .

Tepat di samping kapal pupuk PT. Pusri
Setelah mencapai tujuan pertama kamipun turun untuk melakukan wawancara, setelah di rasa data sudah di dapat semua kamipun naik kembali ke atas perahu ketek untuk melanjutkan perjalanan. Terlihat anak sekolah yang mengunakan transportasi yang sama seperti yang kami pakai pergi sekolah bersama-sama di satu perahu. 

Ternyata perjalanan menggunakan perahu ketek ini cukup memakan waktu, baru tersadar saat di atas kapal ini kami tidak membawa makanan sama sekali sebagai camilan, hanya beberapa botol air mineral yang kami bawa sebelum mengarungi sungai musi. Setelah beberapa titik yang kami tuju sudah di datangi semua  maka saatnya bergerak pulang, saat itu matahari sudah mulai condong ke barat, kulihat jam tanganku sudah menunjukan pukul 2 siang, bercampur antara, panas dan lapar lengkap sudah penderitaan hari ini.

Hasil karya om Rafik
Om Rafik lagi on action
Saat ketek ini melintasi pesisir kampung arab Assegaf, mesin kapal pun seperti berjalan tidak normal, si supir ketek bilang biasanya tersangut tali atau eceng gondok, tetapi ternyata kejadian, saat melintasi kawasan 14 ulu, ketek tersebut benar-benar mati mesinya dan setelah di coba di hidupkan oleh si supir juga tidak mau hidup.

Lama juga kami terapung apung di pinggir sungai tepat di samping rumah pengolahan kodok, tampak anak-anak yang berenang di sungai musi tepat di depan ketek kami, lengkap sudah penderitaan hari ini, lapar, panas dan ngadat.

Tiba-tiba blackberry ku berbunyi, saat ku lihat bunda yang menelponku;
"Assalamualikum, bunda ... ada apa ? tanyaku
"Yah, dimana ?,  kayaknya sudah saatnya , cepat pulang yah " kata istriku
"Lagi di sungai musi, keteknya mogok, nanti kalau sudah sampai ke darat ayah langsung pulang"jawabku

Ada rasa nggak sabar merasuki diri ini untuk segera pulang, tetapi ketek masih moggok sedangkan masih satu titik lagi yang harus kami kunjungi sebagai pengumpul data terakhir, cukup lama si supir ketek memperbaiki mesinya, hingga akhirnya temannya  yang di telponya dari tadi datang.

Jam sudah menujukan pukul 4 sore, perahu ketek kamipun di tarik hingga menuju ke dermaga tempat kami naik pada pagi tadi, tugas hari ini sudah selesai, kamipun bertiga makan siang yang kesorean terlebih dahulu sebelum pulang.

"Fik, titip ini, kerjain besok karena mungkin besok saya nggak masuk"kataku
"Kenapa pak ?"tanya Rafik
"Istri mau turun mesin" jawabku sambil senyum
"Oh........." Angguk Rafik yang masih bujangan ini. 

Ku telusuri aspal sambil terus berdoa "Ya, Allah semoga ke duanya dalam keadaan selamat dan sehat".

"Kalu lum pernah naek ketek di sungi musi lum meraso ke Palembang"
--------------------------------------------------------------------------------
Kalau belum pernah naik kapal ketek di sungai musi belum merasa ke Palembang

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey