Monpera , Monumen Di Tengah Kota Yang Berisi Sejarah Bangsa


Setelah puas menghabiskan waktu di seputaran Jalan Merdeka kamipun beranjak untuk menuju ke tempat berikutnya, yang sebenarnya masih belum terpikir rutenya mau ke mana. tetapi monpera kayaknya lebih dekat untuk kami tuju.

Monpera (Monumen Amanat Penderitaan Rakyat, yg dulunya merupakan kawasan terjadinya Perang 5 hari 5 malam Palembang tahun 1947, setelah memarkirkan motor di depan RS. AK. Gani yang tepat bersebrangan dengan Monpera. Kamipun tidak langsung masuk melainkan berkeliling di pelataran monumen ini terlebih dahulu.

Adek yang sangat tertarik dengan alat-alat berat, segera berlari untuk melihat meriam dan tank yang terpajang di pelataran luar.


Dari halaman monpera yang terpajang tulisan Monpera berwarna putih di hiasi dengan prasasti gading gajah di belakang tulisan tersebut, di sebelah kiri terdapat tank Stuart yang merupakan produksi Amerika yang dibuat berkisar tahun 1941-1945. dan di hiasi juga oleh meriam 25 PDR buatan Inggis tahun 1941.

Dulu tank ini menghiasi taman di bundaran pasar cinde termasuk meriam 25 PDR nya tetapi sejak tahun 2011, taman di bundaran pasar cinde tersebut berubah menjadi taman enterpreneur, sedangkan untuk tank dan meriam ini menjadi penghias pelataran monpera

Beruntung si "Stuart" ada di atas kalau tidak sudah jadi kuda-kudaan
Memperhatikan sang 25 PDR


Bentuk Monpera menyerupai bunga melati bermahkota lima. Melati menyimbolkan kesucian hati para pejuang, sedangkan lima sisi manggambarkan lima wilayah keresidenan yang tergabung dalam Sub Komandemen Sumatera Selatan. Sedangkan jalur menuju ke bangunan utama Monpera berjumlah 9, yaitu 3 di sisi kiri, 3 di sisi kanan, dan 3 di sisi bagian belakang. Angka 9 tersebut mengandung makna kebersamaan masyarakat Palembang yang dikenal dengan istilah “Batang Hari Sembilan”. Sementara tinggi bangunan Monpera mencapai 17 meter, memiliki 8 lantai, dan 45 bidang/jalur. Angka-angka tersebut mewakili tanggal proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.


Saat melewati gerbang utama adek berpose seolah-olah sedang mengangkat gading gajah terebut yang terbuat dari coran semen dan pasir. Gading tersebut melambangkan perjuangan rakyat Sumatera Selatan bak gajah mati meninggalkan gading. Pada gading gajah tertulis prasasti dan angka tahun diresmikannya Monpera.

Simetris dengan prasasti gading gajah, terdapat dada membusung garuda pancasila yang ada pada dinding bangunan utama Monpera. Sementara pada bagian yang lain terdapat dua relief, relief pertama menggambarkan kondisi masyarakat saat pra kemerdekaan, sedangkan relief yang lain menggambarkan peristiwa perang 5 hari 5 malam.


Kamipun melangkah masuk dengan harga ticket 5 ribu perorang sedangkan untuk adek tidak di kenakan ticket, maka kamipun segera menjelajahi setiap ruangan, banyak koleksi sejarah yang kami temukan disini terutama berkaitan dengan perlawanan masyatakat Sumatera Selatan saat mengahadai agresi meliter Belanda ke II, dari foto, dokumen, jenis senjata, pakaian pejuang, serta mata uang yang pernah beredar di Sumatera Selatan.

Adak sangat menikmati lantai demi lantai, dengan khusuk terkadang membaca keterangan foto, atau terkadang memperhatikan diorama perjuanga, dan sekali-sekali bertanya saat adek tidak mengerti. Beberapa kali adek minta di foto dengan patung dada pahlawan dari Sumatera Selatan

Berpose bersama patung dada Dr. AK. Gani, Bambang Utoyo & H. Abdul Rozak
Setelah berkeliling dari lantai-kelantai akhirnya kamipun sampai ke lantai ke paling atas, aku pun naik terlebih dahulu kemudian di susul oleh adek, suasana di puncar monpera lagi ramai, banyak pengunjung yang sedang mengabadikan diri mereka di dalam bidikan hp.

Awal mulanya adek ikut menaiki tangga yang terbuat dari kayu tersebut, tetapi setelah sampai di atas muka ketakutan adekpun keluar mungkin melihat bentuk atap yang miring sehingga membuat adek hanya terduduk di puncak monpera, dengan setengah merengek adekpun segera turun dan menunggu di bawah tangga kayu tersebut.

Para pengunjung yang menikmati suasana dari atas Monpera
Muka adek yang ketakutan dan tidak berani berdiri di puncak ampera




'Adek.. tunggu di bawah saja yah.."

Melihat adek yang hanya menunggu di bawah akupun menyudahi untuk menikmati puncak Monpera, sekaligus melanjutkan perjalanan kami ke tujuan yang sudah menanti.

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey