Beberapa Jam Tanpa Alat Komunikasi


Minggu, 18 Agustus 2019 ( Hari Ke 6 )

Alarm hp ku hidupkan pada pukul 4 pagi, karena rencana hari ini mau ke pintu selatan stasiun tugu  untuk membeli ticket kereta api parameks tujuan stasiun purwosari, Solo, karena kemarin sudah ke stasiun ini tetapi kata petugas bilang ticketnya bisa di beli besok pagi.

Setelah sholat subuh pukul 04:50 akupun meninggalkan kamar, pintu kamar ku kunci ku tinggalkan dengan adek yang masih tertidur di atas ranjang , bergegas aku menuju ke arah stasiun tanpa menghiraukan sapaan penjual gudeg yang ada di pertigaan penginapanku.

"Mas, untuk parameks 252, tiketnya masih ?" tanyaku kepada petugas ticket
"Maaf pak sudah habis, orang pada antri dari pukul 3 pagi tadi" jawab petugas ticket

Jeger..... kepala seperti di timpa kelapa mendengar penjelasan seperti itu,

"Tikect ke solo yang masih pukul berapa mas ?"tanyaku kembali
"Ada parameks 250 pukul 5.30 pagi ini, tinggal 20 menit lagi, Mau ?" jawab petugas loket tersebut
"Aku beli satu mas" kataku sambil memberikan uang sejumlah 8 ribu Rupiah ke petugasnya.

Aku langsung lari kembali ke penginapa, adek langsung aku bangunkan dan bunda pun ku telpon.
" Bunda, ticket untuk jam 7:12 habis, jadi ayah berangkat duluan ke Solo pukul 5:30 ini, nanti bunda dan anak-anak nyusul pakek parameks 252" telpon ku cepat
"Untuk ransel biar ayah yang bawa"kataku lagi
"Suruh ayuk saja ketemuan di simpang jalan penginapan ini, sekalian jemput adek"kataku

Jarak penginapan kami tidak terlalu jauh hanya sekitar 100 meter tetapi karena di kejar waktu ini akupun, terasa jarak ini sangat jauh, masih menggunakan sendal jepit dan celana tanpa ikat pinggang akhirnya ayuk datang membawa ransel yang langsung ku ambil, dan hp ku kutinggalkan ke ayuk.

"Itu tiket ayuk, bunda, kakak dan adek ada di aplikasi KAI Accses tinggal di buka saja dan di scan" kataku ke ayuk.

Adek yang masih bingung pun ikut ayuk, dengan setengah berlari akupun menuju stasiun tugu mengejar parameks 250 yang sudah mulai terdengar klaksonya di kejauhan, akhirnya setelah sampai di stasiun aku langsung menuju pintu masuk pemeriksaan ticket dan selang semenit kemudiat kereta pun datang kamipun langsung naik.

Tepat pukul 5:30 si parameks mulai meyelusuri rel besinya, aku duduk bersama anak-anak yang masih ABG yang katanya pada mau liburan ke Solo. ku perhatikan diriku tanpa ganti baju, celana tanpa ikat pinggang, menggunakan sendal jepit terasa kayak gembel keusir. Doa ku semoga bunda membawa sepatuku dan kaus kaki ku serta ikat pinggangku agar celana ini tidak turun terus.

Setelah melintasi beberapa stasiun pada pukul 6.30 kereta api mulai merapat ke stasiun purwosari, akupun turun dengan satu tujuan yaitu ingin berpose dengan kereta api legendaris Klutuk Jaladara,  tetapi kereta tersebut kayaknya harus di batalkan karena kereta tersebut di tutupi dengan sarung penutup mungkin biar si hitam ini catnya. tidak cepat rusak 

Kereta Api Legendaris Klutuk Jaladara Foto : https://pesona.travel
Kereta api uap Jaladara adalah kereta tua buatan Jerman pada tahun 1896 yang oleh Pemerintah Hindia Belanda digunakan sebagai alat transportasi jarak pendek. Nama kereta ini diambil dari nama kereta pusaka yang dihadiahkan para dewa kepada Prabu Kresna untuk membasmi kejahatan. Kereta uap ini melintasi jalur legendaris yang membelah Surakarta, yakni dari Stasiun Purworasi menuju Stasiun Sangkrah yang berjarak sekitar 5 km menggunakan lokomotifnya bernomor C1218, tergolong lokomotif kecil yang digunakan untuk rute datar. 

Kecepatannya pun hanya 50 km/jam. Jaladara memiliki 2 gerbong yang dibuat dari kayu jati pilihan dengan kapasitas penumpang 70 orang. Kedua gerbong kayu jati asli tersebut dibuat pada 1920 dengan kode CR 16 dan CR 144. Biaya operasional kereta ini terhitung mahal, karena menggunakan bahan bakar kayu jati! Selain itu lokomotif ini juga membutuhkan air dalam jumlah banyak untuk menghasilkan uap guna menggerakkan lokomotifnya. Setidaknya butuh 4 meter kubik air dan 5 meter kubik kayu untuk jarak tempuh dari Stasiun Purwosari sampai Stasiun Sangkrah yang jauhnya berkisar 4 km saja. Pengalaman istimewa memang mahal harganya.

Dari pukul 6:30 sampai pukul 8 lewat harus menunggu di stasiun purwosari sampai bunda dan anak-anak tiba, kopi pun sempat aku beli di mini market depan stasiun, beberapa kali sempat di tolak untuk beli ticket kereta api Batara Kresna karena belum waktunya kata embak loketnya.

Nasib...nasib... akhirnya kuputuskan untuk duduk di ruang tunggu pintu masuk stasiun purwosari, pada pukul 7:45 hati ini galau juga, bisa atau tidak bunda naik kereta ini kuputuskan untuk meminjam telpon pada orang yang ada di sebelah ku.

"Mas, bisa minta bantu, bisa pinjam telponya nggak untuk telpon isteri di kereta yang baru berangkat ini, karena hp saya di bawa istri yang berisi ticket kereta api ke purwosari ini ?"harapku kepada orang yang duduk di sampingku.
"Silakan mas"katanya

Akhirnya kuhubungi hp bunda ternyata tidak bisa di teruskan dan kutelpon lagi telponku baru di angkat dan bunda berkata kalau dia sudah di atas kereta, hati ini menjadi sedikit lega.

"Terima kasih banyak mas"Kataku
"Iya sama-sama"kata orang itu

Yang ternyata merupakan penumpang salah satu kereta dengan yang akan berangkat pada puku 8, untung saja ada orang itu yang Allah kirim agar bisa berkomunikasi dengan bunda. Thanks God

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey