Benteng Vastenburg & Kraton Kasusunan Surakarta Bukti Sejarah Tempo Dulu


Setelah KA. Batara Kresna berhenti sempurna kamipun turun di stasiun solo kota atau sering di sebut sangkrah yang merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Sangkrah, Pasar Kliwon, Surakarta. Karena letaknya itulah, stasiun ini juga disebut sebagai Stasiun Sangkrah. Stasiun ini dibangun pada tahun 1922 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Stasiun yang terletak pada ketinggian +97 m ini terletak di Daerah Operasi VI Yogyakarta. Stasiun ini terletak di wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Stasiun ini memiliki tiga jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Saat ini stasiun ini menjadi terminal untuk kereta api uap Jaladara yang ditarik lokomotif C1218 dan juga melayani rail bus Bathara Kresna. Ke arah Sukoharjo, terdapat dua halte non aktif, yakni Kronelan dan Kalisamin.


Kendaraan yang sudah kami pesan via traveloka untuk menjemput kami sudah ada di stasiun sangkrah ini. Pak Guyub beliau yang di tugaskan oleh Persada Transport untuk mengantar kami keliling kota Solo, dan tanpa sadar saat kami mengambil foto dengan background stasiun solo kota beliau ikut terfoto, bapak yang berbaju batik dan pake topi.

"Awalnya bingung kok di jemput di sangkrah bukan solo balapan atau purwosari"kata pak Guyub sambil menyetir mobil.
"Iya, pak karena memang sengaja minta di jemput disini kita naik KA. Batara Kresna yang pukul 10"Jawabku

Di Depan Benteng Vastenburg
Tujuan pertama kita adalah benteng Vastenburg yang jaraknya hanya +\- 5 menit dari stasiun solo kota , tetapi saat sampai di sana benteng Vastebburg ini tidak buka, dan menurut keterangan dari orang yang ada di sana di buka hanya khusus untuk ada event saja.

Benteng Vastenburg Surakarta Tahun 1910 Foto: Wikipedia
Benteng Vastenburg adalah benteng peninggalan Belandayang terletak di kawasan Gladak, Surakarta. Benteng ini dibangun tahun 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff. Sebagai bagian dari pengawasan Belanda terhadap penguasa Surakarta, khususnya terhadap keraton Surakarta, benteng ini dibangun, sekaligus sebagai pusat garnisun. Di seberangnya terletak kediaman gubernur Belanda (sekarang kantor Balai Kota Surakarta) di kawasan Gladak. 

Bentuk tembok benteng berupa bujur sangkar yang ujung-ujungnya terdapat penonjolan ruang yang disebut selekoh (bastion). Di sekeliling tembok benteng terdapat parit yang berfungsi sebagai perlindungan dengan jembatan di pintu depan dan belakang. Bangunan terdiri dari beberapa barak yang terpisah dengan fungsi masing-masing dalam militer. Di tengahnya terdapat lahan terbuka untuk persiapan pasukan atau apel bendera. Setelah kemerdekaan, benteng ini digunakan sebagai markas TNI untuk mempertahankan kemerdekaan. 

Pada masa 1970-1980 pembangunan ini digunakan sebagai tempat pelatihan keprajuritan dan pusat Brigade Infanteri 6/Trisakti Baladaya Kostrad untuk wilayah Karesidenan Surakarta dan sekitarnya. Setelah lama tidak terpakai sejak 1980-an, benteng ini penuh semak belukar dan tak terawat.Sejak kepemimpinan Joko Widodo, perubahan dan restorasi mulai terlihat. Pada tahun 2014, restorasi terhadap Benteng Vastenburg sangat terlihat dari cat yang mengelupas dicat ulang dengan warna putih.

Karena sebelumnya itenerary perjalanan sudah saya WA ke pak Guyub sebelum kedatangan kami ke solo, "Mas, Kalau usul saya lebih baik ke keraton kasusunan saja dahulu karena kalau hari Minggu ini kraton tutupnya agak cepat sekitar pukul 2 siang" kata pak Guyub.

Aku pun berfikir bener juga karena saat ini juga hampir merapat ke tengah hari "Ok Pak" jawab ku

Kamipun langsung meluncur ke kawasan kraton kasusunan Surakarta, yang hanya berjarak 1 km-an, memasuki kawasan berpagar putih di kanan dan kiri jalan yang merupakan tembok kraton kasusuanan Surakarta.


Setelah memasuki bagian depan kraton kamipun melihat banyak orang antri berfoto dengan prajurit kraton yang berseragam hijau, kamipun ikut mengantri dan akhirnya berfoto, bahkan adek ingin berfoto sendiri dengan prajurit kratonnya, dengan memberikan uang secara sukarela kepada salah satu prajurit sebagai koordinatornya.

Tetapi ada juga yang memfoto kami menggunakan kamera DLSR nya, sehingga saat pulang foto yang sudah di cetak  ukutan 12R sebanyak 3 lembar tersebut kami bayar seharga 50 ribu Rupiah.

Kami pun langsung menyusuri sisi kanan kraton menuju loket pembelian ticket, tanpa terlihat andong yang berjejer dan juga penjual mainan anak-anak & akar wangi pun ada di jalan menuju loket pembelian ticket tersebut.

Karena menghindari panas begini jadi fotonya.
Dengan tiket masuk 10 ribu perorang kamipun langsung mengunjungi bagian museum kraton kasusunan Surakarta.  Banyak yang dapat kami lihat di bagian museum ini dari perlengkapan kraton, kereta kencana, diorama perang, pusaka, pakaian kebesaran dan lain sebagainya.

Ayuk di samping salah satu kereta kencana
Karaton Surakarta Hadiningrat) adalah istana resmi Kasunanan Surakarta yang terletak di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743.

Walaupun Kasunanan Surakarta tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia sejak tahun 1945, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata utama di Kota Surakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kasunanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan contoh arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.

Adapun sejarah berdirinya kraton kasusunan di rangkum sebagai berikut ; Saat kesultanan Mataram yang kacau akibat pemberontakan Trunajaya tahun 1677 ibu kotanya oleh Susuhunan Amangkurat II dipindahkan di Kartasura. Pada masa Susuhunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan, Mataram mendapat serbuan dari pemberontakan orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742, dan Mataram yang berpusat di Kartasurasaat itu mengalami keruntuhannya. Kota Kartasura berhasil direbut kembali berkat bantuan Adipati Cakraningrat IV, penguasa Madura Barat yang merupakan sekutu VOC, namun keadaannya sudah rusak parah. Susuhunan Pakubuwana II yang menyingkir ke Ponorogo, kemudian memutuskan untuk membangun istana baru di Desa Sala sebagai ibu kota Mataram yang baru.


Bangunan Keraton Kartasura yang sudah hancur dan dianggap "tercemar". Susuhunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Hanggawangsa bersama Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota/keraton yang baru. Untuk itu dibangunlah keraton baru berjarak 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, tepatnya di Desa Sala, tidak jauh dari Bengawan Solo. Untuk pembangunan keraton ini, Susuhunan Pakubuwana II membeli tanah seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gede Sala. Saat keraton dibangun, Ki Gede Sala meninggal dan dimakamkan di area keraton.

Setelah istana kerajaan selesai dibangun, nama Desa Sala kemudian diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram oleh Susuhunan Pakubuwana II kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta.


Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwana I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-1745, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwana X yang bertahta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa.

Secara umum pembagian keraton meliputi: Kompleks Alun-alun Lor/Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Siti Hinggil Lor/Utara, Kompleks Kamandungan Lor/Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Sri Manganti Kidul/Selatan (?) dan Kamandungan Kidul/Selatan, serta Kompleks Siti Hinggil Kidul/Selatan dan Alun-alun Kidul/Selatan. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kamandungan Lor/Utara sampai Kamandungan Kidul/Selatan.


Kami pun menyudahi kunjungan kami ke kraton kasusunan Surakarta pukul 12 kurang, yang selanjutnya ingin melihat alun-alun kidul yang ada beringin kembarnya, sama seperti alun-alun kidul Yogyakarta. Ada cerita saat pohon beringin di alun-alun kidul Surakarta ini roboh yang di alun-alun kidul Yogyakarta pun ikut roboh.


You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey