Jalan Malioboro, Bukan Hanya Tempat Belanja

Bunda, Ayuk & Kakak saat di Jl. Malioboro
Siapa yang tidak tahu dengan Jalan Malioboro Yogyakarta, Jalan yang sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas Jogja dan warung-warung angkringan dengan konsep lesehan di malam hari yang menjual makanan khas Jogja. Di tempat ini juga terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim, dan lain-lain yang beratraksi di sepanjang jalan ini.

Adapun asal usul dari kata Malioboro berasal dari makna dalam bahasa Sansekerta adalah karangan bunga. Ini mungkin berkaitan dengan masa lalu saat kraton mengadakan acara besar maka Jalan Malioboro akan di penuhi dengan bunga, ataupun ada pula pendapat lain mengatakan bahwa malioboro merupakan nama dari seorang kolonial Inggris yang pernah tinggal di kawasan ini pada tahun 1811-1816 M yang bernama Marlborough. 

Jalan Malioboro Tahun 1936 Foto : Wikipedia
Entah merunut kependapat mana penamaan dari Malioboro berawal, tetapi satu hal yang pasti bahwa jalan ini merupakan jalan yang paling populer di Yogyakarta, wisatawan baik dalam dan luar negeri seperti menjadi menu wajib untuk menapaki jalan ini jika berada di Yogyakarta. Dari beragam suvenir, kaos, baju batik, blangkon, sandal dan kerajinan tangan lainnya, sangat pantas kalau jalan malioboro ini di nobatkan sebagai salah satu pusat belanja di kota pelajar ini.

Sejak pukul 9 pagi jalan Malioboro ini sudah di penuhi oleh pedagang kaki lima yang menggelar dagangan mereka di sepanjang teras toko yang ada di sepanjang jalan ini, sebenarnya bukan hanya di Jalan Malioboro saja, hingga ke seberang pasar Bringharjo pun atau jalan Margo Mulyo juga di penuhi dengan para pedagang kaki lima. 


Para tukang becak yang sedang menunggu penumpang di seberang Malioboro Mall

Malam ini setelah tour wisata pagi tadi yang cukup melelahkan, bunda mengajak untuk bejalan ke kawasan malioboro yang memang tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap, menyusuri jalan Malioboro banyak di temui penjual yang menggelar dagangannya seperti batik, baju kaos, sandal-sandal yang bisa di jadikan oleh-oleh untuk di bawa pulang nanti. Begitupun banyak para pengamen dan praktisi seni yang unjuk kebolehan di sini ada yang menyanyi, melukis dan bermain alat musik.

Becak dan andong wisata pun tersusun rapi di pinggir sebelah kanan jalan Malioboro, karena hanya 1 lajur yang di pakai untuk kendaraan bermotor untuk melintas, karena lajur lainnya merupakan jalannya becak dan andong wisata.


Di Salah satu sudut Malioboro Mall
Kawasan ini akan menjadi ramai sekali terutama di malam minggu, para pendatang dan penduduk lokal berbaur jadi satu di kawasan wisata ini, banyak yang bisa di saksikan di sepanjang jalur ini, begitu juga angkringan dan lesehan yang membuat pengunjung kawasan ini melebur menjadi satu.

kami pun menelusuri jalan ini dan akhirnya mencoba untuk mampir di Malioboro mall yang memang belum pernah kami singgahi, mall yang cukup megah di kawasan maliboro ini, tetapi esensi malioboro itu sendiri bukan hanya yang tersebut di atas.


Malioboro bukan hanya tempat bertemunya pembeli dan bejual tetapi lebih dari itu, ada aksi seni di sini, ada keakraban dari lesehan dan secangkir kopi panas dalam kebersamaan, ada keramahan yang tersaji di dalam santun, dan yang terpenting adanya keragaman didalam perbedaaan. Itulah yang membuat malioboro tidak pernah sepi, kawasan yang selalu ramai dan selalu di kenang oleh pengunjung.


You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey