Nge-gembel di Stasiun Gambir.

Lagi gantian jaga barang saat sholat subuh
Rabu, 14 Agustus 2019 ( Hari Ke-2 ).

Bus damri yang merapat berbarengan dengan waktu fajar yang di tandai dengan alunan azan subuh, sesaat kami turun dari bus kami pun segera menuju stasiun gambir dengan tujuan mencari toilet untuk bebersih dan melakukan sholat subuh atau bahkan sekalian mandi biar badan segar.

Tetapi saat sampai di toilet di barisan toko-toko yang masih tutup tetera tulisan "Dilarang Mandi", sehingga kita bebersih seadanya dan melakukan sholat di musolah stasiun gambir tersebut.

" Yah... lapar.... mau makan" kata Adek
" Mau makan apa .???? , toko makanan masih pada tutup" jawabku
" Itu sudah buka "kata adek kembali sambil menunjuk salah satu toko ayam goreng cepat saji.
" Iya ... yah , yang itu saja" kakak menimpali
Akhirnya kamipun beranjak setelah menunggu bunda dan ayuk selesai keluar dari musolah tersebut. 

Sarapan Pagi
" Mas,... untuk paket keluarganya masih ? " Tanyaku kepada kasir toko cepat sajinya.
"Masih pak, ini ada 5 ayam 5 nasi " jawab masnya
" Ambil satu paket Mas + Susu Coklatnya 3" Kata ku kembali
"Susu coklatnya habis pak" jawab masnya
"Ganti sama teh dingin saja mas" kataku

Setelah melakukan pembayaran anak-anak yang sudah mengambil tempat yang berhadapan dengan dinding kaca sehingga bisa melihat orang yang melintas di stasiun gambir, kamipun mulai memakan sarapan pagi kami, ayuk, kakak dan adek terlihat lahap makannya mungkin karena efek perjalanan jauh.

Kakak bergaya di depan backdrop Hut KAI ke 73

Setelah menyudahi sarapan ku, akupun menuju mini market yang terletak di seberang tempat kami makan, membeli tisue basah dan alat cukur yang kelupaan di bawa oleh bunda, tisue basah ini biasanya merupakan barang wajib dimana bunda tidak pernah absen membawanya karena barang yang satu ini sangat serba guna, bisa sebagai lap tangan seusai makan atau sebelum makan, sebagai pengganti kain lap untuk mengelap badan yang belum mandi dan berbagai kegunaan lainnya.

Kakak yang melintas di backdrop HUT PT.KAI ke 73, tertulis tentang sejarah dari awal berdirinya PT. KAI sampai dengan saat ini, begitu juga tentang beberapa stasiun yang tertulis di situ, salah satunya tentang lawang sewu yang juga menjadi tujuan kami di kota Semarang nanti. Di backdrop itupun membahas tentang sejarah stasiun gambir sampai peralihan dari perusahaan kereta api zaman Belanda, Jepang , era kemerdekaan sampai saat ini, ternyata seru juga membacanya.

Stasiun Gambir tahun 1939, dengan arsitektur art deco foto diambil dari halaman Gereja Immanuel. 
Foto : Wikipedia

Stasiun Gambir awalnya hanya berupa halte kereta api yang terdapat beberapa ratus meter di arah selatan stasiun gambir saat ini dengan bangunannya yang berbentuk kecil dan sederhana. pada tahun 1871 merupakan Halte Koningsplein (Halte Lapangan Raja). Halte ini dikelola Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij sampai tahun 1884.

Halte itu kemudian digantikan oleh Stasiun , Pada tanggal 4 Oktober 1884 di remsikanlah stasiun Weltevreden yang menggantikan halte Halte Koningsplein tersebut yang terletak tepat di Stasiun Gambir saat ini berdiri. Dengan gedung mempunyai konstruksi atap yang bertumpu pada bantalan besi cor yang mengacu pada rancangan Staatsspoorwegen pada tahun 1881. Berbeda dengan NIS yang tidak menempatkan atap-atap seperti SS, sedangkan SS sendiri telah menempatkan konstruksinya untuk di beberapa tempat.

Stasiun  ini di gunakan sebagai stasiun pemberangkatan untuk tujuan Bandung dan Surabaya sampai tahun 1906, setelah pengambilalihan pengelolaan jalur kereta api oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1913, pembenahan dan perbaikan juga di lakukan seperti pada tahun 1928, stasiun Weltevreden itu di lakukan perluasan dan di perbesar termasuk bagian  atap yang di perpanjang sampai 55 meter ke arah utara. Dan satu tahun kemudian mengalami renovasi besar-besaran yang mana gaya art deco di pilih. Stasiun itu diresmikan sebagai Stasiun Batavia Weltevreden SS  pada tahun 1937 yang saat ini menjadi stasiun Gambir yang merupakan salah satu stasiun tersibuk di Indonesia.


Pada pukul 06:30 kamipun menuju ke stasiun pasar senen menggunakan taxi blue bird yang tepat di seberang pool damri Gambir, karena pada pukul 10:15 nanti kereta gaya baru malam selatan akan membawa kami menuju ke stasiun lempuyangan Yogyakarta. Taxi pun berangkat menuju stasiun pasar senen, yang berisikan  kami sekeluarga tanpa satupun ada yang mandi. 





You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey