Taman Sari, Situs Pemandian Keluarga Kerajaan

Sempat berpose di depan taman sari karena datang kepagian
"Mas.... saya sudah di depan kresna guest house "telpon mas Wahyu dari Wijaya Transport yang hari ini akan mengantar kami keliling Yogya lagi.

"Iya .. mas sebentar ini sudah mau turun dari penginapan" jawab ku

Paket wisata ini saya dapat setelah membaca artikel di www.yogyes.com yang berisi informasi salah satunya yaitu wijaya transport yang menyediakan paket wisata tersebut.

Setelah naik ke mobilnya yang berplat D ; "Ini tujuannya mau kemana saja mas ?" tanya mas wahyu sambil menyetir.

Aku ceritakan rute paket pada hari ini yaitu dari Kraton Yogyakarta, Taman Sari, kota gede, kasongan, Pantai Parangtritis, Pantai Depok dan Gumuk Pasir Parangkusumo.

"Mas, kalau ke kraton jam segini belum buka, baru jam 9 semua buka termasuk ke taman sari....tapi kalau mau menunggu sebentar biar saya antar.... "jelas mas wahyu

Akhirnya kami menetapkan rute pertama perjalanan pada hari ini adalah ke kampung wisata taman sari terlebih dahulu, tidak sampai 15 menit perjalanan kamipun sudah sampai di parkiran wisata taman sari, kondisi memang masih sepi seperti yang sudah di jelaskan oleh mas Wahyu sebelunya, kami pun menunggu sebentar tetapi dengan kondisi yang sepi seperti ini kita bisa foto di depan pintu masuk taman sari.


Sekitar 1 jam kami menunggu dan akhirnya pintu gerbangpun di buka, karcis untuk kawasan wisata ini tidak mahal yaitu 5 ribu Rupiah perorang di tambah dengan izin foto di lokasi yaitu 3 ribu, jadi total yang saya bayar 28 ribu.

Taman sari yang tempatnya yang terletak di Jl. Komplek Taman Sari, Kraton, Patehan Yogyakarta. Tempat ini dulunya merupakan tempat rekreasi untuk para keluarga kerajaan. Selain menjadi tempat rekreasi, tempa ini juga merupakan benteng pertahanan yang sudah berdiri sejak zaman dahulu. Pada mulanya Istana Air Taman Sari ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758-1765, yang uniknya walau sudah lebih dari dua ratus tahun yang lalu, sebuah istana air ini juga merupakan salah satu lambang kejayaan Raja Mataram, walaupun tempat ini berada di Jogja, namun nyatanya bangunan ini sama sekali tidak memiliki arsitektur Jawa maupun Nusantara Indonesia, melainkan ciptaan dan memiliki bangunan ala Portugis karena memang di arsiteki oleh Demang Tegis seorang berkebangsaan Portugis dan biaya pembangunannya ditanggung oleh Bupati Madiun Prawirosantiko.


Pada saat memasuki gerbang taman sari (Gedong Gapura Panggung) ini pertama kita akan di sambut dengan pelataran halaman yang kanan kirinya di tanami dengan tanaman-tanaman peredu yang ada di dalam pot ataupun langsung di tanah, beberapa bangunan kecil (Gedong temanten & Gedong Pengunjukan) juga menghiasi halaman ini.

Melewati gerbang utama kami di sambut dengan kolam buatan/danau buatan yang berair jernih, banyak koin yang sepertinya di lemparkan ke dalam kolam tersebut, yang menurut mereka akan mendapatkan keberuntungan. Di lokasi tersebut terdapat juga bangunan tinggi tiga tingkat yang di jadikan tempat sultan untuk menikmati keindahan taman sari ini, juga terdapat periuk besar yang berfungsi sebagai cermin yang terletak di samping lemari pakaian sultan, setelah puas di daerah ini kamipun menuju ke kawasan selanjutnya di mana ada gapura yang hampir mirip dengan gerbang di pintu masuk tadi.



Yang di sebut dengan Gedong Gapura Hageng yang merupakan penghubung antara halaman segi delapan pertama (Pasepan) dengan halaman segi delapan ke dua (Gedong lopak-lopak) Dan yang uniknya dari belakang gerbang ini ada tangga di mana kita bisa naik hingga keatas, di belakang gapura yang sudah di tunjang dengan besi, berdasarkan informasi yang di terima salah satunya adalah gempa tahun 2006 yang membuat beberapa bagian bagunan retak, di dalam kawasan ini cukup rimbun ada penjual makanan dan juga ibu-ibu yang lagi membuat batik tulis ( walaupun ada tulisan di larang mengambil foto).

Disini kamipun sempat menyantap 3 buah popmie, 2 gelas juice dan 1 gelas es tawar, karena adek yang merengek kelaparan, dan dari ibu yang berjualan di sini kami baru tahu kalau tanah di dikawasan ini merupakan milik keraton semua yang statusnya adalah menyewa, dan sewa perbulanpun tidak mahal hanya sebesar 9 ribu Rupiah perbulan, saya pun setengah tidak percaya mendengar penuturan dari ibu tersebut tetapi seperti itulah kenyataan yang ada.

Di Sumur Gumaling
Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan dan ke arah sumur gumuling yang spot fotonya sering viral di media sosial, berjalan menyusuri jalan perkampungan yang tertata rapi dan di beberapa dinding terlihat mural yang menarik.

Untuk menuju ke pusat sumur gumaling ini harus hati-hati karena jarak antara lantai dan atapnya agak pendek beberapa kali terlihat turis asing yang terbentur dengan atapnya, bunda pun sempat mengadu di kala kepalanya terantuk dengan bagian atap yang melengkung tersebut saat penelusuran kedalam terlihat lorong tersebut gelap dengan pencahayaan matahai dari lubang-lubang yang ada, informasinya kalau sumur gumaling ini merupakan tempat ibadah atau kepentingan relegius hal ini di tujukan oleh karena adanya semacam mihrab atau tempat pengimaman, yang oleh penduduk setempat dan para guide menyebutnya masjid bawah tanah.

Salah satu reruntuhan bangunan di pulo kenanga
Setelah puas merasakan nuansa religius antara gelap dan sunyi kamipun melanjutkan perjalanan ke Gedong Pulo/Pulo Cemeti yang berjarak hanya 3 menit, tetapi kami pun sempat tersasar sampai ke arah belakang pasar Ngasem yang kebetulan lagi persiapan acara musik.

Ayuk Di gerbang masuk pulo kenanga yang berbatasan dengan perumahan penduduk
Kamipun balik kanan lagi, menyusuri kembali lorong perkampungan dengan berbekal google map akhirnya kami bisa  mencapai kawasana pulau kenanga, dimana bangunan tinggi yang tinggal reruntuhan saja tetapi tetap menarik untuk menjadi spot foto, ada yang melakukan foto preweding di sini, atau sekedar melihat-lihat keindahan mahakarya zaman dahulu.

Karena jam di tangan sudah menunjukan pukul 10 pagi, dan harus menuju destinasi wisata berikutnya akhirnya kamipun menyudahi petualangan di kawasan kampung wisata taman sari ini.




You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey