Malu Bertanya, Tersesat Di Pasar Klewer

Berfoto di pasar klewer
Taklama pun kami menuju parkiran basement pasar Klewer.
"Mas, nanti naik saja lift nya sampai atas, dan ada pintu keluar pasar tepat di depannya ada masjid kraton Surakarta" Jelas Pak Guyub
"Pak Guyub, nggak sekalian ikut sholat ?"Tanyaku
"Nggak mas, saya nasrani" jawab pak Guyub
"Maaf pak"kata ku lagi

Pasar Klewer Tahun 2012 Foto : https://soloraya.solopos.com/
Pasar Klewer adalah pasar tekstil terbesar di Kota Surakarta. Pasar yang letaknya bersebelahan dengan Keraton Surakarta ini juga merupakan pusat perbelanjaan kain batik yang menjadi rujukan para pedagang dari Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lain di Pulau Jawa. Bangunan pasar dua lantai ini menampung 1.467 pedagang dengan jumlah kios sekitar 2.064 unit. Pasar Klewer tidak hanya sebagai pusat perekonomian, tetapi juga tujuan wisata dan simbol Kota Surakarta. Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, kawasan di Pasar Klewer merupakan tempat pemberhentian kereta api yang digunakan sebagai tempat berjualan para pedagang pribumi. Oleh karena digunakan sebagai tempat berjualan, kawasan tersebut terkenal dengan sebutan Pasar Slompretan. 

Kata slompretan diambil dari suara kereta api ketika akan berangkat yang mirip dengan tiupan terompet (slompret). Pasar Slompretan ini merupakan tempat para pedagang kecil yang menawarkan barang dagangan berupa kain batik yang diletakkan dipundaknya sehingga tampak menjuntai tidak beraturan atau berkleweran jika dilihat dari kejauhan. Dari barang dagangan kain batik yang berkleweran itu, pasar ini terkenal dengan nama Pasar Klewer. Pedagang di Pasar Klewer pada awalnya adalah para pedagang yang berjualan di daerah Banjarsari dan Supit Urang. Pasar Klewer mulai berkembang pada tahun 1942-1945 dan semakin berkembang hingga tahun 1968. Kemudian dibangunlah bangunan pasar bertingkat permanen pada 9 Juni 1970 untuk menampung para pedagang yang diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Bunda sambil melihatl-lihat batik
Setelah keluar dari lift di lantai 2  dan langsung berjalan saja , tidak adanya papan petunjuk atau peta bangunan, kami pun terus berjalan menyusuri pertokoan di pasar klewer ini dan hal ini di manfaatkan bunda untuk melihat-lihat batik yang informasinya bahwa batik dari sinilah yang menjadi rujukan para pedagang di kota Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan kota-kota di pulau jawa lainnya.

Hampir 15 menit kami keliling-keliling tanpa menemukan pintu keluar, akhirnya kuberanikan untuk bertanya ,
"Mbak .. maaf kalau pintu utamanya yang ke arah masjid di mana ya ?"tanya ku 
"Lurus saja mas, kemudian mentok belok ke kanan langsung ketemu pintu masuk utamanya"Jawab mbak tersebut
"Terima kasih mbak" kata ku lagi

Akhirnya kami coba mengikuti petunjuk dari mbak tersebut dan akhirnya bertemulah dengan pintu masuk utama dari pasar klewer ini, ini lah efek dari malu bertanya tersesat di pasar klewer.

Bergaya di pasar klewer

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey