Batalnya Berdiri Di Puncak Monpera

Palembang Heritage Half Day Tour Sesion 2 -
 Adek sebelum menyebrang, berpose dengan background kantor pos Palembang
"Yakin tidak takut...nanti teiak-teriak seperti kemarin."kataku ke adek
"Tidak ya... hari ini adek mau berdiri di puncak monpera" jawab adek tegas

Kami segera menyebrang ke kawasan monpera, tampak di sebelah kanan kantor pos Palembang dan tepat di seberangnya adalah lapas wanita yang merupakan penjara pertama di kota Palembang ini. 

Kantor pos yang terletak di Jalan Merdeka ini bukan merupakan banguan asli lagi, karena bangunan asli kantor pos yang di dirikan tahun 1928 sudah mengalami perubahan total, dulunya bentuk dan arsitek kantorpos hampir mirip dengan arsitektur kantor pos di daerah lainnya di Indonesia. 

Tembak musuhnya dek....
Sesaat setelah mencapai kawasan monpera adek langsung menuju ke salah satu meriam yang berada di dalam kandang dan ternyata badan adek bisa masuk ke dalamnya yang di ikuti oleh satu anak kecil lainnya, adek langsung naik ke atas meriam jenis 25 PDR yang di produksi oleh negara Inggris lansiran tahun 1941 yang banyak di pakai saat perang dunia ke 2.

Adek seperti biasa berlari ke sana dan kemari, sehingga  saat tiba di prasasti gading gajah di depan Monumen adek berkata :
"Yah... Hidung adek panjang" Saat adek menyatukan mukanya dengan replika gading tersebut.

Saat itu kondisi pelataran monpera lumayan ramai, ada mahasiswa dari poltek unsri sedang melakukan kegiatan pembersihan disekitar Monumen tersebut.

Adek di depan prasasti gading gajah
"Yah.. Kita naik ke atas yok" Kata adek dengan semangat.
"Ok... " Jawab ku singkat

Adek berlari menuju ke pintu masuk sekaligus tempat pembelian ticket, tetapi ternyata pintunya tertutup, sampai akhirnya adek memutari seluruh monumen tersebut tetapi ke 4 pintunya semuanya tertutup rapat.

Kami pun akhirnya duduk di bawah burung garuda besar berwarna hitam yang ada di bagian depan monumen ini, terbang imajinasi ini di awal tahun 1947, saat areal ini menjadi salah satu tempat pertempuran habis-habisan antara pejuang Indonesia dan tentara kerajaan Belanda. Untuk memperingati peristiwa tersebut, para sesepuh pejuang kemerdekaan RI wilayah Sumatera Selatan yang tergabung dalam Legiun Veteran Sumatera Selatan berinisiatif untuk membangun sebuah monumen peringatan. Cita-cita tersebut baru terwujud pada 17 Agustus 1975.


Dulu pernah mendapat cerita dari orang-orang tua kalau salah satu pejuang kemerdekaan tidak sadar kalau salah satu tangannya lepas dengan sendirinya karena terlalu lama memegang senjata mesin yang di tembakan ke pihak Belanda.

Saat itu Palembang di bombardir dari laut dan udara, banyak korban yang berjatuhan dari tentara Indonesia atapun masyarakat sipil. Menurut catatan PMI ketika itu, sekitar 2000-3500 orang pihak Indonesia menjadi korban dari serangan brutal pasukan Belanda. Namun, sepertinya banyak yang lupa. Padahal, bangsa yang besar, seperti kata Bung Karno adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. 


Bisa bolong kalau main prosotan di sana dek
Karena bosan adek pun berlari ke arah pintu masuk, tetapi bukan untuk melihat buka atau tidaknya monpera ini tetapi menaiki salah satu dari 3 beton yang berbentuk segitiga yang ada di samping  bangunan ini, beton segi tiga ini ada di samping kiri, kanan dan belakan monumen ini. Adek pun bermain prosotan karena melihat anak-anak yang sebaya dengan dia juga bermain hal yang sama di sisi sebelah belakang monumen.


Bagian belakang dari relif yang mengambarkan perang 5 hari 5 malam 1947 di Palembang
Pintu sebelah kiri merupakan pintu masuk sekaligus loket pembelian ticket di Monpera.
Adek bermain di prosotan beton tersebut tidak terlalu lama, kamipun melanjutkan perjalanan kembali, tepat di belakang prosotan tadi ada rumah sakit di kelolah oleh TNI Angkatan Darat yaitu Rumah Sakit AK Gani tetapi masyarakat Palembang sendiri lebih mengenal dengan "rumah sakit benteng" hal itu di karenakan lokasi rumah sakit tersebut terletak di samping dari areal benteng kuto besak.

Adek di depan Rumah Sakit AK Gani / Rumah Sakit Benteng
Rumah Sakit TK II Dr. AK Gani adalah sebuah rumah sakit yang berada di Kota Palembang Sumatra Selatan dengan menempati bangunan tua peninggalan kolonial Belanda yang waktu itu digunakan sebagai Markas Pertahanan Belanda untuk menghambat masuknya Tentara Indonesia (APRI), terutama serangan yang datang dari sungai Musi.

Pada tanggal 13 Mei 1950 rumah sakit yang bernama Militaire Hospital ini diserahkan oleh KL/KNIL kepada Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), dalam rangka serah terima ini bertindak sebagai wakil dari masing-masing pihak adalah Letnan Kolonel Dr. Nordhoekrecht mewakili KL/KNIL, dan APRI sebagai pihak yang menerima diwakili oleh Mayor Dr. Ibnu Sutowo.


Selanjutnya kamipun berbelok ke kiri menyusuri jalan kecil di belakang monpera dan museum SMB II, di mana banyak terdapat mural yang menandakan bahwa kami ada di kawasan "De Burry Cafe Museum" yaitu tempat kuliner yang bernuansa budaya di mana tempat yang terletak di belakang museum SMB II ini sering di adakan pementasan budaya sembari berkuliner ria. "Burry" sendiri di merupakan kata yang ambil dari kata daerah Palembang yaitu "Buri" yang artinya di belakang.

Jalan yang tidak terlalu panjang ini menghubungkan antara jalan Dr. AK. Gani atau sering disebut masyarakat Palembang dengan Jalan Benteng (yang merupakan nama jalan dari masa kolonial belanda Benteng weg) dengan jalan Palembang Darusalam , di mana di ujung jalan  sang pampasan perang pun sudah bisa terlihat dengan kokohnya.

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey