Kawasan Kolonial Yang Berubah Mengikuti Zaman

Palembang Heritage Half Day Tour Sesion 2 -  Di depan hotel Swarna Dwipa

Motorpun kupacu pelan menyusuri kawasan kolonial untuk menuju ke kawasan kambang iwak besak, hari Minggu ini kambang iwak akan ramai dengan banyaknya pedagang yang berkumpul di sini, karena ramainya banyaknya orang yang akan berolahraga atau sekedar refresing di kolam air tengah kota ini. 

Akupun memarkirkan motorku, adek segera menuju jogging track di area kambang iwak, kami melintasi tepat di depan hotel Swarna Dwipa yang merupakan salah satu BUMD di kota ini, hotel yang pada awalnya bernama “Hotel Buijs” yang terletak di Jalan Tasik yang berhadapan langsung dengan kambang iwak besak yang awalnya merupakan mess PT. Stanvac dengan ciri khas baling-baling pesawat terbang yang kemungkinan maksudnya untuk tempat menginap para pilot penerbang stanvac. Kebersihan dan kesehatan sanitasi hotel selalu di jaga seperti melakukan voging atau penyemprotan anti nyamuk di halaman hotel per 2 kali sehari.

Tidak sembarang orang saat itu untuk melaksanakan acara di hotel tersebut, orang-orang yang sudah di cap sebagai orang kaya yang bisa. Tahun 1950 an saat Nasionalisasi yang di canangkan oleh Bung Karno maka mess stanvac ini di ambil alih oleh pemda menjadi hotel swarna dwipa.


Adek & fasilitas olahraga yang rusak
Papan nama Taman Kambang Iwak Besak
Setelah melalu jogging track adek menuju ke tempat olah raga publik yang sengaja di pasang oleh pemerintah kota ini sebagai fasilitas penunjang area wisata kambang iwak ini, adek juga sudah tidak asing lagi dengan kawasan kambang iwak ini, walaupun saat ini bagian di tengah kawasan ini lagi mengalami renovasi terlihat dari pagar seng yang menutupi kawasan tersebut.


Kif Park lagi mengalami renovasi
Kalau di lihat dari sejarahnya saat zaman kolonial pada era 1900-an di kawasan Talang Semut ini dulunya terdapat tiga rawa besar, untuk itu ada lahan yang perlu ditimbun dan adapula yang dijadikan Kolam Besar (Kambang Iwak Besak) dan Kolam Kecil (Kambang Iwak Kecik Masjid Taqwa) yang berfungsi sebagai kolam retensi untuk mengendalikan banjir dan juga untuk mengalirkan air ke Sungai Sekanak. Perumahan yang di bangun di daerah ini. Awal mulanya kambang iwak ini di jadikan tempat rekreasi dan juga berolahraga untuk warga Belanda yang berdiam di sekitar kawasan talang semut.

Kambang iwak sendiri berasal dari kata daerah Palembang yang berarti kolam ikan, Di tahun 80-90 an kawasan kambang iwak ini menjadi tempat penjual bunga hias dan  juga menjadi tempat lomba burung kicau, dan di malam hari terkenal akan banyaknya waria yang mangkal di sini, yang akhirnya pemerintah pun mengubah kawasan  menjadi tempat wisata dan olahraga, dengan penambahan fasilitas penunjang wisata, perbaikan pada kolam dan trotoar menjadikan tempat ini banyak di kunjungi orang terutama pada akhir pekan.

Di depan kantor kanwl pajak Sumsel Babel yang merupakan bangunan exs hotel smith



Akupun mengajak adek untuk berjalan menujuk ke kantor kanwil DJP Sumsel Babel, kamipun menyebrang jalan yang saat itu kendaraan sudah lumayan ramai, karena pedagang sudah banyak meninggalkan kambang iwak, terlihat papan nama "taman kambang iwak besak" yang merupakan kerjasama antara pemerintah kota Palembang dan Bank SumelBabel. Saat tiba di depan kantor ini yang menarik bagi adek adalah batang kayu yang tumbuh melengkung di trotoar jalan, adek menaiki  batang tersebut dengan senyum lebar.

Bangunan kanwil DJP Sumsel Babel ini dulunya adalah hotel yang berkelas di zamannya ini terletak di kawasan elite talang semut yang bernama hotel Smith, kebanyakan warga Belanda yang tinggal di sini, dengan mengandalkan kenyamanan dan ketersediaan air panas dan dingin,. Banguan yang sudah ada era tahun 1920-an ini termasuk hotel yang bagus dan disewa oleh perusahaan minyak BPM SHELL untuk karyawan-karyawannya sebelum mereka mendapatkaninstansi di Plaju. Dulu karyawan dan keluarga BPM dan SHELL dan Untuk karyawan SVPM/STANVAC biasanya di tinggal di Hotel Buijs/Swarnadwipa) yang tidak terlalu jauh dengan hotel smith ini.

Setelah era kemerdekaan dan nasionalisasi maka kepemilikan hotel ini beralih ke alm H.Bajumi Wahab yang berganti nama menjadi hotel sehati, cukup lama hotel ini di kelola oleh tangan dingin manajemen alm H.Bajumi Wahab sampai dengan era tahun awal 2000-an, dengan seiring waktu hotel ini tidak mampu bersaing dengan hotel-hotel lainnya yang mulai menjamur di kota ini, maka bangunan bersejarah ini pun harus di robohkan. 


Muramnya Adek &  Se kusam aura Museum Textil

Hanya menyebrang jalan Dr. Sutomo kami pun sampai ke bangunan lama yang di bagian depannya tertulis mueum tekstil, Gedung yang dibangun oleh kolonial Belanda pada kisaran tahun 1931-1937, sebagai kantor Gubernur pemerintahan Hindia Belanda di wilayah Sumatera Bagian Selatan , telah memerankan beberapa lakon dalam perjalanan waktu yang cukup panjang.

Pada tahun 1961 pernah menjadi kantor inspektorat kehakiman, lalu Kejaksaaan Tinggi (Kejati) Sumsel, rumah kediaman Ketua DPRD Sumsel, kantor Pembantu Gubernur, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), BP7, dan terakhir kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda). Dan sekarang didalam kerentaannya di renovasi dan akan di jadikan museum textil.

Memang beberapa waktu lalu Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Palembang berkantor sementara disana, sembari menunggu rampungnya kantor mereka di Jl Merdeka.Bangunan “BP7” merupakan bangunan lama dan berdiri diatas lahan sekitar 2000 meter persegi, dan saat ini sebagian dari bagunan bagian belakang di manfaatkan sebagai salah satu kantor intansi pemerintahan.

Setelah selesai dari museum tekstil kamipun langsung menuju parkiran tujuan terakhir adalah zwembad / Kolam renang Garuda di jalan Hang Tuah, motor kupacu pelan, banyak mobil yang sudah terparkir di pinggiran jalan tasik karena adanya acara resepsi pernikahan di hotel Swarna Dwipa.

Saat tiba di tikungan menuju jalan Hang tuah, sejenak aku memberhentikan motorku,
"Dek..... foto di sini ya" kata ku

Matahari yang semakin menyengat membuat adek merasa tidak nyaman

Gereja ini merupakan gereja protestan tertua di kota Palembang yang berdiri tanggal 13 Agustus 1933, beranggotakan orang-orang Belanda dan Cina sejumlah 144 orang. Adapun alasan pemerintahan Hindia Belanda membangun gereja tersebut saat itu adalah guna memberikan tempat pribadatan baru bagi mereka pendatang dari Jawa. Gereja ini sendiri di berinama Gereja Siloam / White Church karena seluruh bangunanya yang berwarna putih.

Starter motor ku tekan kembali, menyusuri jalan Hang Tuah tepat di ujung jalan bangunan hijau yang merupakan kolam renang yang di kelola oleh pihak Kodim 0418/PLG, selain di buka untuk umum kolam renang ini juga di pergunakan tes renang saat penerimaan calon anggota TNI atapun Polri.

Zwembad atau kolam renang yang terletak di kawasan kolonial ini (di ujung Jl Hang Tua) memang merupakan kolam renang yang pertama di bangun oleh Belanda dan di perkirakan pada 1920-an, selain kolam renang atau zwembad yang di bagun di komplek pertamina Plaju dan Sungai Gerong.


Beraksi di depan Kolam Renang Garuda


Zwembad/kolam renang “Garuda” letaknya tidak terlalu jauh dari hotel Buijs (Swarna Dwipa) dan hotel Smith atau hotel sehati, mudah di jangkauwalaupun dengan berjalan kaki. Uniknya Kolam renang yang ramai di kunjungi saat hari minggu ini memiliki bentuk yang berbeda dengan kolam renang lain pada umumnya yang ada di Palembang. Kolam renang garuda ini di buat seperti bak/kolam dan lantainya di sangga dengan tiang-tiang yang di cor sehingga kesannya kolam ini tidak menggali tanah tetapi di buat di atas tanah.


Perubahan bangunan di kawasan ini walau pun lambat tetapi terasa, dari rumah-rumah yang sudah banyak tidak di urus dan di biarkan terbengkalai, ataupun rumah tinggal yang di sulap menjadi tempat usaha yang di tuntut menyesuaikan dengan zaman, begitu juga bangunan baru yang di anggap lebih menarik di bandingkan bangunan lama. 

Matahari sudah tegak di atas kepala, azan zuhurpun sudah memanggil kamipun menyelesaikan kegiatan Palembang Heritage Half Day Tour Sesion 2, mesin motor menderu pelan menyusuri hitamnya aspal, raut lelah pun sudah tampak di muka adek, sampai jumpa di Palembang Heritage Half Day Tour berikutnya.

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey