Bukit Sakura, Wisata Ketinggian Yang Bernuansa Jepang


Tujuan kami berikutnya adalah objek wisata bukit sakura yang terletak kurang lebih 3,5 km dari puncak mas, sama seperti memasuki areal puncak mas yang merupakan jalan kampung dengan di beri papan nama bertuliskan bukit sakura sebagai petunjuk untuk menuju lokasi.

Setiba di gerbang dengan warna merah mencolok kitapun harus membayar ticket sebesar 10 ribu perorang, jalan menuju gerbang masukpun sedikit menanjak di hiasi dengan payung warna-warni menambah eksotik objek wisata ini.

Mulai di bangun sejak 2017 bukit sakura awalnya merupakan perkebunan masyarakat yang di jual ke Bapak Ahmad Sanusi Musa, perlahan akhrinya tempat ini di sulap menjadi tempat wisata walaupun saat ini akses jalan masih di rasakan kecil itu pun merupakan usaha dari pemilik bukit sakura untuk menghidupkan lokasi wisata ini.


Lahan seluas 3.400 meter ini, saat ini banyak terdapat fasilitas yang sudah bisa di gunakan seperti kantin, tempat penyewaan baju kimono ala Jepang, pondokan, kemudian panggung terbuka yang di design untuk pertujukan musik dan seni lainnya, tersedia juga musolah dan toilet, serta karakter jepang sebagai spot selfi kita.

Walaupun tanjakan memasuki bukit sakura ini tidak terlalu tinggi tetapi lumayan membuat badan berkeringat di tambah lagi hari panas dan beratnya ransel yang bertengger di punggungku,
"Semangat mas" kata penjaga ticket yang mengambil ticket berwarna kuning sebagai bukti masuk dengan dialeg jawanya yang khas.
"Kemringetan pak" jawabku
"Ora opo-opo sing penting sehat" jawab bapak itu kembali sembari menepuk pundakku

Saat masuk kami langsung di sambut dengan tulisan bukit sakura dan pohon-pohon bunga sakura yang ada di tempat tersebut, nyai dan datuk tumben-tumben mau berfoto duluan biasanya datuk paling ogah untuk berfoto.


Terlihat juga gambar karekter samurai dan geisah yang ada di depan rumah penyewaan baju kimono, dan balon udara yang seperti di lihat di puncak mas juga ada di sini, selain spot selfie di sini juga terdapat penginapan yang besar dan yang kecil, ketangkasan memanah dengan tarif 20 ribu per 4 kali memanah.

Awalnya kawasan ini bernama bukit batu jati, tetapi saat kita menelusuri jalan perkampungan yang mengarah ke arah objek wisata ini berbau jepang semua, wajar kalau akhirnya masyarakat sekitar meminta untuk merubah nama bukit batu jati menjadi bukit sakura.


Karena kami merupakan rombongan terakhir yang datang di karenakan taxi online yang membawa 2 rombongan sebelumnya sudah terlebih dahulu akhirnya kamipun mencari kegiatan sendiri-sendiri, aku bersama ayuk menyusuri setiap lokasi yang ada di bukit sakura ini dari yang tertinggi sampai turun ke bawah.

Lumayan capek dan panas juga tetapi semua terbayar dengan spot foto yang bagus-bagus, tidak rugi membayar ticket yang hanya 10 ribu jika di bandingkan dengan pengalaman kami di objek wisata ini, hari semakin siang mataharipun semakin menunjukan panasnya akhirnya setelah puas berkeliling dan berfoto kamipun kembali untuk menuju destinasi berikutnya.

Apa kerjaan mu kak di situ...????



You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey