Seperti Di Rumah Sendiri


Kereta api bergerak perlahan menyusuri rel besi yang sudah ada sejak tahun 1911 dengan membawa rangkaian gerbong dengan tujuan tanjung karang, anak-anak yang pada awalnya duduk manis dengan berbekal tablet dan hp yang di hiasi dengan game.

Hari sebelumnya saya sempat menonton film "Kereta Api Terakhir" film lawas tahun 1981, yang mengisahkan tentang Letnan Firman yang mendapat tugas untuk memindahkan kereta api yang terakhir ke Yogyakarta bersama pasukan Siliwangi setelah di langgarnya perjanjian linggar jati. Di bumbui dengan intrik percintaan antara Letnan Firman dan gadis kembar dengan setting perang kemerdekaan tahun 1946. Begitu juga peran Sersan Tobing dengan suaranya yang merdu yang sempat di puji oleh Jenderal. Gatot Subroto. 

Yang menarik ternyata banyak pengungsi yang ikut bersama di dalam kereta ini, bahkan sampai ada yang melahirkan, dan banyak juga para pengungsi yang gugur setelah si cocor merah dan menembaki kereta tersebut, perjalanan kerta ini juga sempat terhambat saat jalur kereta yang di bom bardir oleh si cocor merah sebelum mencapai terowongan ijo.

Tetapi dengan sigap para pahlawan kereta api dibawah komando pak Willy tidak ingin kereta api berhenti berjalan, dengan sigap mereka mereka mengganti bantalan dan rel untuk memastikan kereta api agar tetap bisa berjalan.


Akupun hanya terdiam sambil memandang ke arah anak-anak yang sedang bermain, hasil perjuangan para pejuang kemerdekaaan dan pahlawan kereta api yang membuat kereta api sampai saat ini masih bisa berjalan di atas rel, anak-anak yang bermain meloncat di kursi bahkan menaiki sandaran menjadi pemandangan yang membuatku terdiam.

Kalau dulu seandainya para pahlawan kereta api bersama para pejuang kemerdekaan tidak ikut menjaga dan memelihara  dan mempertahankan jalur kereta ini, karena saat perang kemerdekaan jalur kereta ini sempat di blokade, di bom bahkan ada jembatan penghubung kereta api yang di rusak.

Terima kasih pada para pahlawan dan pejuang, karena saat ini kami bisa menikmati layanan kereta api yang dari hari ke hari semakin baik, anak-anak bisa bermain seperti di rumah sendiri tanpa ada takut, ada anak yang bejalan mondar mandir, ada yang bergelantungan. Kamipun bisa duduk dengan tenang menikmati perjalanan tanpa rasa khawatir.

Semoga kereta api selalu membenahi pelayanan agar maksimal, di usia ke 74 PT. KAI justru menghadapi tantangan luar biasa dalam memwujudkan pelayanan kereta api yang luar biasa. 

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey