Wihelmina Burg, Jembatan Dari Kutipan Pajak Petani Karet



Sebenarnya tujuan kami sampai ke kawasan ini adalah mencari sisa dari kendaraan legendaris yaitu mobil ketek, tetapi apa mau di kata sampai jauh ke kawasan 1 ulu tidak terlihat lagi bangkai dari mobil Jeep buatan America tersebut, tapi wajar juga terakhir melalukan peliputan mengenai mobil ketek tahun 2008 mungkin juga saat ini si mobil jeep tersebut sudah menjadi mobil antik di garasi-garasi para orang berduit.

Setelah adek melepaskan dahaganya dengan meminum air mineral dingin, senyum nya kembali lagi. Akhirnya karena sudah berada di ujung jalan maka sekalian ku ajak adek untuk melihat jembatan ogan Kertapati atau saat zaman kolonial di sebut sebagai Wihelmina Burg.

Derita jembatan ini tidak sedikit jembatan yang saat ini sudah berubah menjadi warna kuning dengan tiang berwarna biru cukup mencolok dari kejahuan, baru beberapa hari yang lalu ada bus pariwisata yang tersangkut di lengkungan jembatan ini begitu juga ada truck yang melebih tinggi dari lengkungan jembatan sehingga tersangkut juga. Di bagian pondasi juga pernah tertabrak  oleh tongkang tetapi tetap berdiri gagah.

Sangat sedikit arsip pengenai pembangunan jembatan ini pada zaman kolonial sehingga jembatan yang di bangun tahun 1939 ini masih banyak mengandung misteri, mengutip setiap sen untuk para penjual karet untuk setiap katinya, dan sen tersebut yang menjadi salah satu pendanaan yang di gunakan untuk pembangunan jembatan ini.


Jembatan lengkung seperti ini tidak hanya kita temui di Palembang saja, di tempat lainpun ada dengan bentuk yang sama persis, seperti jembatan ogan di kota Baturaja, OKU dan di daerah batang hari leko Musi Banyuasin.

Jembatan yang merupakan pintu masuk ke pusat kota Palembang ini menjadi saksi dari zaman ke zaman, dari pembangunan di zaman kolonial, pendudukan Jepang sampai jembatan ini menjadi basis pertahanan oleh Belanda saat perang kemerdekaan untuk menghalau bala bantuan dan logistik dari daerah.

Adek beberapa kali berfoto di kokohnya jembatan ini. 
"Yah pulang yok... Adek capek" Kata adek
"Lain kali cari tempat yang agak adem kalau mau jalan-jalannya" Kata adek lagi. 
"Siap... Bos" Mataku sambil men stater motorku untuk pulang.


You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey