Cemong & Cimon

Si cemong on action

Cemong & Cimon begitulah nama anak kucing yang baru berumur 5 bulan, yang merupakan anak-anak si belly yang lahir di bulan Agustus tahun yang lalu tidak lama setelah kepulangan kami dari Yogyakarta. 

Belly saat itu melahirkan 4 ekor anak yang lucu-lucu,  2 ekor berwarna orange yang di adopsi oleh om Diki pada umur 2 minggu yang berkelamin jantan dan betina dan 2 ekor berwarna tabbies yang saat ini masih tinggal di rumah kami, cemong itu panggilan kami untuk anak kucing jantan dan cimon untuk anak kucing betina.

Si Cimon yang pemalu
Dari keseluruhan anak kucing yang lahir dari belly tidak ada yang mirip dengan belly secara fisik yang merupakan ras anggora, mungkin karena pejantan yang kawin dengan belly merupakan kucing kampung yang memang banyak berkeliaran di dekat rumah kami.

Si cemong kucing jantan ini lebih lincah ketimbang si cimon mungkin karena sedari kecil si cimon sering di takut-takuti oleh adek, sehingga saat mendengar suara keras sedikit dia akan langsung bersembunyi. Bunda yang memberi nama cemong karena melihat muka anak kucing jantan ini ada warna hitamnya yang mengambarkan kucing jantan, berbeda dengan cimon yang di hiasi warna putih di muka, dada sampai ke kaki , saat berjalan seperti sedang memakai kaus kaki.

Untuk makanan sendiri bagi cemong dan cimon ikan laut yang sudah di rebus menjadi menu makanan mereka sehari-hari, karena memang karakter kucing kampung lebih kental bagi mereka, walupun untuk makanan lain seperti telur dadar, atau dry food mereka pun masih lahap untuk menyantap. Kalau urusan makanan nya kucing bunda yang berperan rutin tiap minggu membeli ikan laut tersebut.

4 ekor bayi si belly ( Agustus 2019 )
Tetapi seperti inilah resiko jika mempunyai kucing betina, terkadang banyak kucing jantan yang bertandang ke rumah untuk sekedar menyambangi belly sehingga lahir lah si cemong dan cimon yang entah siapa bapaknya. Inilah effek dari pergaulan bebas si belly yang bisa pergi ke manapun, karena saya tidak pernah menaruh si belly di dalam kandang, sedari kecil orang tua saya mengajarkan kalau kucing itu harus bebas bukan hidup di kandang, dahulu saat kami masih kecil orang tua saya pernah mengurus hampir 24 ekor kucing di rumah baik memang peliharaan kami atau pun menolong kucing dari jalanan.

Sang Induk Si belly yang sudah kami rawat sejak umur 2 minggu
Berurusan dengan binatang peliharaan terkadang juga menimbulkan masalah seperti saat kita akan bepergian jauh, pernah suatu saat si belly tidak ketemu disaat kita mau menghadiri pernikahaan sepupu di Rangkasbitung, Banten, yang ternyata si belly tertidur dan terkunci di kamar ( Baca : Mahalnya Melayang Di Udara ).

Tetapi saat terakhir kita bepergian ke kota Lampung, kami hanya menyiapkan tempat tidur berupa kardus beralas kain yang di letakan di samping rumah yang lumayan tertutup untuk dia dan anak-anaknya yang masih menyusui tersebut. Tetapi untuk makananya tetap kami titip di tetangga sebelah.

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey