Berzaiarah Ke Makam Sunan Giri, Sang Raja Sekaligus Pandita Ratu


Selepas dari kota Ngawi menuju ke makam Sunan Giri di Gersik kami di sambut dengan hujan, sepanjang jalan di tol juga hujan yang turun dari langit juga tak kunjung reda, perjalanan dengan waktu lebih dari 3 jam ini sebagian besar di hiasi dengan hujan.

Sesampai di parkiran makam Sunan Giri pun cuaca sepertinya tidak mau bersahabat, malahan hujan deras semakin menjadi, di kawasan ini ada ketentuan jika ingin berziarah harus menggunakan ojek atau pun dokar/delman sebagai sarana angkutan menuju tangga naik ke makam sunan giri, dengan tarif 5 ribu per orang untuk ojek bisa di naiki oleh 2 orang sedangkan dokar dengan tarif 5 ribu perorang dengan kapasitas 5 orang.

Delman yang mengantarkan penumpang ke pintu masuk makam sunan giri
Dengan hujan yang tidak berhenti juga, sebagian jamaah tidak berani melanjutkan ziarah karena takut licin saat menaiki tangga keatas, Kami ber 4 pun menguatkan hati menerobos hujan untuk menaiki dokar yang sudah terparkir tetapi ternyata untuk jarak kurang lebih 1 kilo meter harga perorang naik menjadi 10 ribu perorang.

Dengan terpaksa kamipun naik aku dan temanku yang berbadan besar membuat dokar tersebut terjungkit ke belakang, maklum berat badan ku di angka 90 kg dan teman yang satu lagi di angka 105 kg, lumayan membuat kuda penariknya meringkik.

"Tenang mas, iso... ojo khawatir" kata si kusir menenangkan kami

Sedangkan aku sendiri sudah cemas karena lebih berat bagian belakang dokar ketimbang bagian depan, sehingga akupun sudah memasang kuda-kuda untuk melompat kalau seandainya dokar ini terguling di derasnya hujan ini.


Lagi di atas dokar
Tidak lama berselang dokar pun sampai di depan gerbang pintu masuk makam Sunan Giri, hujan yang masih tidak berhenti membuat seluruh pakaian kami basah semua, dari jaket sampai kain sarung, begitu juga peci penutup kepala ikut basah.

Kamipun berhenti sejenak sebelum menaiki tangga menuju gerbang berharap hujan akan berhenti, Gapura di ujung tangga yang merupakan bagian dari  situs candi bentar. Lumayan tinggi anak tangga yang harus di tapaki, dengan pegangan tangga dari besi stenlise, mempermudah para peziarah untuk menapaki tangga tersebut. Sudah beberapa saat menunggu akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan di tengah derasnya hujan, menapaki tiap tangga mengenang perjuangan penyebaran dakwah oleh Sunan Giri tersebut.



Walaupun dengan kondisi basah kuyup kamipun bisa sampai ke puncak tempat makam Sunan Giri berada, kamipun melakukan sholat terlebih dahulu sebelum melakukan ziarah, hembusan angin di kawasan makam menambah dingin badan kami.

Setelah sholat kami lakukan akhirnya kamipun melakukan ziarah, ukiran khas yang tampak pada dinding ukiran yang bermotif relife bunga teratai, gunung dan burung garuda, dengan atap dari sirab (kayu yang di rangkai menjadi atap), menimbulkan kesan sunyi dan damai. Para peziarah harus menundukan badan untuk masuk ke dalam bangunan makam, ada yang mengartikan ini sebagai penghormatan kepada sang sunan.


Lantunan tahlil dan doa mulai bergema di makam ini, para jamaah dari daerah lain pun membaur melantunkan tahlil dan doa, setelah selesai maka para jamaah pun membubarkan diri, ada yang langsung kembali ke bus ada juga yang mengambil air yang di anggap memiliki barokah di salah satu sudut makam sunan Giri ini.

Kamipun mulai menuruni kembali anak tangga yang tadi di gunakan untuk naik, hujan pun sudah berhenti, angin yang menghembus di pakaian basah ini semakin membuat badan ini menjadi dingin. melintasi tiap anak tangga, terlihat para pedagang yang masih membuka lapak mereka menunggu setia para pembeli.


Di depan tampak tukang ojek sudah berjajar rapi menunggu antrean penumpang yang akan di angkut kembali menuju parkiran, "saat nya mencoba ojek yang satu ini" gumaku dalam hati.
Ojek yang terkenal karena kecepatannya saat membawa penumpang seperti yang di kisah kan oleh para jemaah yang pernah berkunjung di makam Sunan Giri ini.

Tarif yang di kenakan oleh tukang ojek di sini adalah 10 ribu untuk 2 orang, jika yang naik 1 orang tetap 10 ribu. Akhirnya ku mantabkan hati untuk naik ojek tersebut sendirian.
"Mas..... kasih gass poll.. yang paling ngebut"kata ku
"Habis hujan licin" jawab tukang ojeknya
"Gas ajalah mas"kataku lagi, saking penasaran seberapa cepat ojek ini bisa melaju.

Kamipun meluncur menuju parkiran bus, mau tau rasa naik ojeknya....lebih baik coba saja sendiri.


Mau tau rasa naik ojeknya ??... rasakan sendiri saja ?



You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey