Berziarah Kemakam Sunan Gunung Jati, Ulama Sekaligus Umaronya Cirebon


"Dek..Ayo Bangun... sudah sampai" kata teman sebangku ku yang hampir menyamai umur bapak ku.
Aku pun mengusap mataku, sambil memperhatikan suasana banyak jemaah yang sudah mulai turun dari bus, sambil membawa perlengkapan masing-masing. Kulihat jam di tangan ku masih pukul 4:00 pagi hari yang berarti mendekati waktu subuh.

Kamipun turun dari bus setelah koordinator bus, mempersilahkan kami turun, kami langsung menyusuri jalan yang di kanan kiri di penuhi oleh pedagang, baik makanan, pakaian, aksesoris dan lain sebagainya, tetapi banyak juga pengemis yang datang menghampiri kami bukan hanya satu dua orang yang berharap uang receh dari para peziarah seperti kami.

Mendekati pintu gerbang makam, beberapa orang dewasa berdiri sambil mengetok kotak besar, dengan nada kasar "Kasih Uang Di sini"  sambil menunjuk kotak yang di ketok pakai tongkat, padahal tidak ada kewajiban para peziarah untuk harus memasukan uang ke dalam kotak tersebut, ini yang membuat rasa tidak nyaman pada peziarah. Atau sama seperti kasus orang dewasa yang memaksa untuk ke wc/toilet yang terletak di samping gerbang dengan berteriak-teriak.


Menyusuri jalan yang di penuhi pedagang lumayan mengasikan tetapi dengan di iringi banyak pengemis ini yang membuat sebagian jemaah menjadi gerah, bahkan ada juga orang yang mengarahkan arah makam Sunan Gunung Jatinya ke arah yang salah, entah apa motifnya.

Kami pun terus berjalan sampai di areal makam bahwa kami di perintahkan untuk sholat subuh terlebih dahulu baru kemudian melakukan ziarah, masjid sunan gunung jati terletak tidak jauh dari areal makam, sekitar 50 meter, di belakang makam, tetapi jalannya harus memutar, di jalan setapak tersebut juga tampak beberapa pengemis mengharap derma dari para peziarah.


Bagian Dalam Masjid Sunan Gunung Jati
Masjid yang cukup unik ini dengan arsitektur lawas, banyak piring-piring keramik yang tertempel di dinding  bagian luar, sama seperti pada dinding makam sunan gunung jati ini, semakin mendekati waktu subuh jemaah yang ingin menunaikan sholat subuh semakin banyak, saat azan subuh di kumandangkan  masjid yang memiliki beberapa undakan ini makin penuhi oleh para jamaah.

Selesai menunaikan sholat dan wiridan, ustad Jamal sebagai kepala rombongan pun bergerak menuju makam sunan Gunung Jati untuk melakukan ziarah, para jamaah laki-laki dan perempuan pun mengiring beliau, tepat di depan pintu makam.

Ustad Jamal


Banyak para peziarah yang mengikuti ziarah ini dengan khusuk, pembacaan tahlil dan doa yang di lantunkan tidak hanya dari jemaah kami saja tetapi ada beberapa jemaah dari daerah lain pun yang pada kesempatan yang sama juga berziarah ke sini.

Beragam piring keramik dan guci dari cina tertempel di dinding ruang makam, karena Sunan Gunung Jati selain ulam beliau juga merupakan pemimpin pada masanya, terlahir dengan nama Syarif Hidayatullah di Mesir yang merupakan anak dari penguasa mesir bernama Syarif Abdullah Umdatuddin putra Ali Nurul Alam putra Syekh Husain Jamaluddin Akbar  yang merupakan masih memiliki garus keturunan dari Rosulullah SAW, di tanah air  Syarif Abdullah Umdatuddin lebih di kenal oleh masyarkat sufi sebagai Syech Maulana Akbar.

Ibu beliau bernama Nyai Rara Santang yang setelah menikah berubah nama menjadi Syarifa Mudai'm. Dia putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana atau Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Mubaligh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad.

Pesarean Sultan Sepuh Raja Sulaiman
Kebanyakan para sunan hanya memilih menjadi para pemuka agama saja, tetapi berbeda dengan sunan gunung jati yang juga mengemban amanah sebagai umaroh saat menggantikan kakak Nyai Rara Santang sebagai penguasa Cirebon.

Keahlian yang di miliki oleh Sunan Gunung Jati tidak hanya di bidang keagamaan beliau juga menguasai bahasa, ilmu politik dan perang, bahkan ilmu pengobatan baik mendeteksi penyakit maupun mengobati penyakit merupakan karunia besar dari Allah Taala.

Karena inilah salah satu sebabnya mengapa tidak banyak orang yang bisa menembus pintu-pintu makam beliau yang terkunci rapat sampai langsung ke makam beliau, hanya orang-orang tertentu dan yang merupakan keturunan dari sunan Gunung Jati.

Dena makam Sunan Gunung Jati
Sumber Gambar : http://ilhammustoga.blogspot.com

Dari kesembilan pintu tersebut para peziarah biasa hanya bisa berziarah di pintu pasujudan yang merupakan salah satu pintu gerbang dari sembilan pintu gerbang yang ada yang di makam sunan Gunung Jati, adapun nama pintu lainnya yaitu Pintu Gapura, Pintu Krapyak, Pintu Pasujudan, Pintu Ratna komala, Pintu Jinem, Pintu Rararog, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan Pintu Teratai yaitu pintu untuk menuju ke area makam Sunan Gunung Jati.

Tapi ada di antara jemaah kami ada yang bisa memasuki makam sunan Gunung Jati Ini. entah apa hubungannya dengan makam ini, hal ini di tunjukan dengan rekaman video yang di ambilnya saat memasuki makam tersebut.



Pada saat selesai melakukan ziarah saya pun membaca tulisan jawa “Sugih bli rerawat, mlarat bli gegulat,” , setelah di tanya kepada pengurus makam di sana ternyata merupakan salah satu wasiat dari Sunan Gunung Jati, dan satunya ternyata ada di papan nama masjid saat sholat subuh tadi. Adapun  2 wasiat tersebut adalah :

“Insun titip tajug lan fakir miskin.”

Secara harfiah arti dari wasiat tersebut ialah, “Saya titip tajug (sejenis mushalla atau langgar yang dipergunakan pula sebagai tempat aktivitas mengaji) dan fakir miskin.”

“Sugih bli rerawat, mlarat bli gegulat,” 
yang artinya “menjadi kaya bukan untuk pribadi, menjadi miskin, bukan untuk menjadi beban bagi orang lain.”

Yang ternyata wasiat tersebut bukan merupakan wasiat biasa, karena memiliki makna yang mendalam dan luas untuk kehidupan umat.


Saat ziarah selesai maka para jemaah pun mulai membubarkan diri, berganti dengan jemaah dari daerah lain yang akan melakukan ziarah juga, sebagian jemaah kami ada yang mengambil air dari areal makam Sunan Gunung Jati ini yang di percaya memiliki keberkahan. Adapun sebagian lagi menyantap minuman penghangat tubuh yang ada tidak jauh dari parkiran bus, dengan harga 5 ribu perporsi cukuplah untuk menghangatkan tubuh ini.

Skoteng khas Cirebon
Matahari pun sudah muncul di peraduan, para jamaah satu persatu bersiap kembali kedalam bus, karena tujuan masih terbentang panjang.

----------------------------------------

Tips Berziarah Ke Makam Sunan Gunung Jati
  1. Jika bertemu dengan para pengemis dewasa baik anak-anak di kawasan Makam Sunan Gunung Jati ini para peziarah, lebih baik di acuhkan saja dan pura-pura tidak tahu, walaupun kita di hadang pakai tangan yang di rentangkan di depan gerbang dan di paksa memasukan uang di dalam kotak atau tempat, lebih baik di lewati saja.
  2. Jika ingin memberikan sedekah, masukan saja kedalam kotak yang sudah tersedia.
  3. Waspada atas barang bawaan karena tidak sedikit yang mengalami kehilangan barang, taruh tas dan barang berharga di bagian depan badan ( di dada ) .
  4. Kalau berziarah sendirian lebih baik bergabung dengan jamaah ziarah yang lebih banyak, biar kita tidak menjadi pusat perhatian. 



You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey