Edisi 9 Jam Di Yogyakarta Bagian 5 : Es Dawet hitam, Lunpia Bu Yusuf & Wedang Ronde Malioboro

Es dawet hitam benteng Vredeburg

Setelah dari taman pintar akupun berjalan lagi kembali ke arah pasar Bringharjo tetapi tepat di halaman benteng vredeburg kulihat penjual es dawet hitam yang sebelumnya pernah ku minum juga di dekat masjid biru ( Baca : Segarnya Es Dawet 3 in 1 ( Hitam, Hijau & Putih ) ).

Dengan harga 5 ribu per porsi akupun mencari tempat duduk tepat di depan benteng vredeburg di bawah rindangnya batang pohon beringin, banyak jamaah yang melintas di sana saat ingin ke km 0 atau pulang ke kraton, sempat juga ngobrol lama dengan salah satu jamaah yang ikut duduk bersama ku.

Kesegaran es dawet hitam ini terasa sekali, mungkin karena hari yang menyengat ini, walaupun saat ini awan hitam semankin gelap dan angin bertiup agak kencang, ku habiskan minuman ini sampai sedotan terakhi, dan benar juga akhirnya hujan pun turun.

Sambil menyusuri pasar bringharjo dan membeli beberapa kotak bakpia, yangko dan brem sebagai buah tangan  akupun kembali menyusuri jalan yang di penuhi pedagang ini sampai akhirnya di salah satu sudut jalan aku bertemu dengan penjual lunpia bu Yusuf.


Dengan harga 3 ribu dan 5 ribu dengan tambahan telor, ku beli 3 buah yang biasa saja, dengan isi daging ayam, rebung dan sayuran cukup untuk camilan ku sore ini, berbeda dengan lunpia yang ada di Semarang dengan harga 10 ribuan malahan untuk lunpia gang lombok sampe 25 ribu perbuah. ( baca : Harumnya Es Dawet Durian & Nikmatnya Lunpia Pak Suyat Pandanaran ).

Karena hujan semakin deras akupun mencari tempat berteduh di trotoat jalan Malioboro, tetapi sialnya di sebelahku ada anak lagi pacaran, tanpa peduli dengan mereka kuhabiskan satu persatu lunpia yang sudah ku beli tadi.

Saking nikmatnya tinggal setengah

Setelah selesai semua berbelanja, untuk membeli buah tangan termasuk daster untuk ayuk, baju kaus adek dan kakak, akupun belanja ku sudah cukup tinggal packing dan berangkat menuju ke Jakarta. Setelah bada magrib selesai sholat di antara gerimis hujan yang makin menderas, banyak jemaah yang membeli wedang ronde karena ku tau minuman ini bisa menghanagatkan tubuh.

Wedang ronde malioboro

Akupun memesan satu porsi kulihat ustad Jamal bersama keluarga juga sudah menikmati wedang rondenya, harga yang di patok bapalk ini adalah 10 ribu per porsi cukup sesuai menurutku dengan rasa yang di tawarkan.

Setelah ini akupun bersiap untuk mengepak ulang barang-barangku dengan kardus yang kuminta dari rumah makan taman sari siang tadi, biar beres semua nya.

Wedang rondenya sudah mau habis

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey