H 6 : Perjalanan Panjang Demak Ke Surakarta, Kami Harus Menunggu Sampai Fajar

Ustad Jamal di depan pintu gerbang masjid Riyadh Solo
Setelah pukul 10 lewat bus pun mulai berangkat dari parkiran kadilangu, sekitar 3 jam ke depan kami bakal sampai di kota Solo tepatnya di Masjid Riyadh tempat makam anak dan cucu sohibul maulid Al-Habsiy, Bus selepas meninggalkan parkiran kadilangu berlari kencang menyusuri asapal di dalam pekatnya malam, banyak para jamaah yang sudah kelelahan tertidur pulas di dalam bus ini.

Sudah 6 hari kami bersama di dalam bus ini, ada kaki yang sampai bengkak karena menggantung dan tidak menapak dengan sempurna, termasuk kaki ku, sehingga agak kurang nyaman saat di bawa untuk sholat, ada juga yang terkena demam, dan ada satu dua jamaah yang kehabisan "logistiknya" padahal perjalanan masih beberapa hari lagi, dan biasanya yang seperti ini menghabiskan banyak uang untuk belanja di makam-makam sunan sebelumnya.

Aku senditi terlelap dalam tidurku, 3 jam lumayan panjang untuk waktu istirahat, jalur Semarang- Solo sendiri bukan jalur asing bagi ku biasanya dari terminal Sukun aku naik patas baik untuk ke Tirtonadi Solo ataupun ke Jombor Yogyakarta.

Aku terbangun saat ku sadar kalau bus sudah berhenti, ku lihat jam di Hp ku baru pukul 2.30 dini hari, sebagian besar jamaah masih tertidur pulas, hanya satu dua orang saja yang bangun dan ikut turun dari bus.

Ustad Jamal dan beberapa orang  yang sedari tadi sudah turun ternyata mengalami kesulitan untuk memangil atau menghubungi marbot masjid yang kemungkinan beliau sudah tertidur pulas, akhirnya ada yang menghubungi Habib Novel Alydrus yang merupakan murid dari Habib Anis Al-Habsiy yang letak majelis dan kediaman beliau tidak terlalu jauh dari masjid Riyadh.

Hanya beberapa orang yang ikut, yang aku sendiri tidak tahu lagi ceritanya karena lebih fokus untuk mencari toilet karena ingin BAB, untungnya ada wc umum yang letaknya tidak terlalu jauh dari pemberhentian bus kami walaupun harus masuk lorong segala, sehingga hajat bisa tertunaikan.


Sekitar pukul 4 pagi pintu samping untuk masuk ke areal masjid dan pemakaman pun di buka, aku pun mengambil wudhu untuk menunggu sholat subuh berjamaah, karena instruksi dari Ustad Jamal bahwa ziarah akan di lakukan setelah sholat subuh.

Para jamaah yang sudah bangun dari tidurnya, banyak yang bebersih di kamar mandi dan toilet masjid ini, bahkan ada yang mandi, tidak menunggu terlalu lama masjid pun penuh oleh jamaah yang akan menunaikan sholat subuh.

Setelah sholat subuh selesai, wirid dan doa-doa di lantunkan, maka para jamaah pun bergeser sedikit kedepan untuk melakukan ziarah, hanya terdapat 3 makam di sini yaitu Habib Alwi, Habib Anis, dan satu lagi masih saudara habib Anis.




Setelah selesai melakukan ziarah, hari masih pagi tetapi perut masih lapar akhirnya kamipun berkeliling mencari sarapan, setelah bertanya dengan Habib Aman yang duduk di sebelahku katanya makan di ujung jalan tidak terlalu jauh.

Kami ber empat pun mendatangi tempat tersebut yang ternyata sudah ada jamaah yang makan di sana, akhirnya aku memesan nasi pecel dan 2 buah gorengan di tambah air teh hanya seharga 6 ribu saja, wajar kalau Om Usman memesan lagi 2 bungkus untuk bekal makan siang nanti.


Bersama Habib Fuad

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey