Hikmah Di Balik Cepatnya Penyebaran Virus Covid-19

Ilustrasi Virus Corona Kredit Foto : Lampung Post
Hampir seminggu berlalu dari tulisan terakhir, anak-anak yang masih berdiam di rumah sudah mendekati angka 14 hari, mereka masih berkutat dengan tugas sekolah secara onlinenya, kakak pun baru beberapa hari ini juga menggunakan laptop sebagai sarana kegiatan belajar mengajar secara e-learning yang harus di ikuti oleh siswa, sedangkan adek sendiri masih mengerjakan secara manual melalui WA smartphone bunda.

Setiap jam 10 pagi anak pun kami suruh keluar rumah untuk berjemur sebentar barang 15-20 menit agar bisa terkena panasnya sinar matahari sekalian berinteraksi dengan tetangga di depan ataupun yang berada di samping rumah kami, seperti inilah kegiatan anak-anak pada pagi hari di saat mematuhi himbauan pemerintah untuk tetap berada di rumah.

Secara nasional angka pertumbuhan dari orang yang terkontaminasi virus ini saja per kemarin tanggal 27 Maret 2020 sudah mencapai angka 1046, dengan korban meninggal sebanyak 87 orang, sembuh 46 orang dan dalam perawatan sebanyak 913 orang. Sedangkan untuk di Sumatera Selatan Sendiri orang dalam pengawasan (ODP) mencapai 467 orang sedangkan pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 22 orang dan pasien di kota Palembang sendiri yang positif Covid-19 ini ada 1 orang walaupun beliau sudah meninggal beberapa hari yang lalu.

Hal ini yang membuat banyak orang menjadi cemas dan takut dengan pesatnya pertumbuhan virus ini, rasa itu pun sempat terselip di dalam relung hati ini, takut dan cemas berbaur menjadi satu, tetapi justru dengan ketakutan kita tidak akan bisa menghadapi apa-apa sedangkan musibah yang sedang melanda negeri ini perlu peran serta seluruh masyarakat agar kita bisa dapat memutus mata rantainya. Hingga itulah kami menguatkan diri dan hati dan yakin bahwa badai wabah ini akan berlalu pada saat nya nanti.

Tetapi secara jujur banyak hikmah yang bisa kami ambil dari kejadian ini, hampir selama 14 hari anak-anak diam di rumah membuat rumah kembali ramai dan ceriah dengan segala permasalahannya, tetapi di balik itu ada makan bersama yang kami lakukan setelah melakukan sholat berjamaah dan membaca Al-Quran, dan ternyata bukan hanya keluarga kami saja yang melakukan hal ini beberapa keluarga di tempat tinggal ku juga melakukannya juga.

Ikut membantu pekerjaan pasangan kita di rumah atau ikut nimbrung saat anak-anak menyelesaikan tugas sekolahnya, hikmah lainnya kita terus di ingatkan dengan menjaga kebersihan minimal cuci tangan dengan sabun yang terkadang selama ini kita lalai untuk melakukannya, bermain bersama anak-anak, bernyanyi, menjadi pelawak bahkan bermain bersama anak-anak kita lakoni, atau hal yang sederhana sekalipun seperti tidur siang bersama yang selama ini jarang kami lakukan, karena kesibukan kerja, mengajar ataupun anak-anak yang sedang sekolah.

Dengan tetangga yang selama ini juga sibuk, pada saat berjemur kam bisa bertegur sapa bahkan berbagi makanan ke masing-masing tetangga, atau sekedar ngobrol sambil berjemur.

Saat malam aku terduduk di atas sajadah, aku sadar kami bukan apa-apa kesombongan ku runtuh karena mahluk yang berukuran nano meter yang di tugaskan oleh Allah sebagai tentara langit untuk menyadarkan manusia, yang selama ini aku banyak tidak perduli dengan rumah ibadah sesaat tersentak karean sudah ratusan rumah ibadah yang tidak lagi buka saat menjalankan sholat Jumat kemarin.

Ampunan dan terima kasih kami panjatkan kepada Nya yang telah menurunkan tentaranya yang bernama Corona ini, yang sudah mencabik-cabik hati ini agar selalu ingat kepada Nya, yang membuat kami lebih pasrah atas kehendakNya.

Apakah di bulan Romadhon yang tinggal hitungan hari virus ini akan menghilang, entahlah semuahnya tergantung dari sang pencipta, tugas kita di sini hanya sebatas ikhtiar jangan keluar rumah, jangan mudik saat lebaran nanti, jangan bepergian ke daerah yang sudah terjangkiti, karena kita tidak tahu apa kita merupakan pembawa virus atau justru orang yang akan terinfeksi virus, karena menurut penelitan 80% para pembawa virus adalah orang yang sehat.

Tapi kita doa kan juga saudara-saudara kita yang tetap keluar mencari makan untuk anak istrinya agar selalu berhati-hati dan di berikan kesehatan oleh sang kuasa, karena ini memang menjadi dilema yang cukup rumit diantara penyebaran virus dan kebutuhan sehari-hari yang harus di penuhi. Tapi yakinlah bahwa badai corona ini akan segera berakhir, tetaplah berfikir positif dan menebarkan kebaikan kepada orang lain.

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey