Rinai Hujan Ini Membuat Ku Berdamai Dengan Hati


Langit yang sudah terlihat gelap ini akhirnya menumpahkan hujannya juga, rinai hujan yang membuatku meminggirkan kendaraan ku dan berteduh sejenak sampai menunggu hujan reda, aspal jalan utama kota ini tampak mengkilat di terpa oleh hujan, banyak para pengendara motor lainnya yang juga berhenti seperti ku biar tidak basah karena air hujan.

Sambil memperhatikan tetesan air hujan, kulihat di sebelahku penarik bentor yang juga ikut berteduh, dengan menggunakan topi dan masker kain beliau mendekapkan kedua tangannya.

" Sudah banyak dapat penumpang kak ?" tanyaku iseng sambil memecah kesunyian
" Dari pagi dek baru dapat satu orang itu pun cuma di bayar 10 ribu" jawab penarik bentor tersebut
"10 ribu... maksudnya ?' tanya ku kembali
"Seharusnya ongkosnya tadi 13 ribu tetapi karena tidak ada kembalian maka uang 5 ribuannya di pegang penumpang dan tidak kembali lagi"jelas penarik bentor tersebut.

Ia pun melanjutkan ceritanya tentang kesehariannya menjadi penarik bentor, istri yang menjadi tukang cuci di rumah tetangga yang tidak jauh dari kontrakan beliau, dan cerita tentang anak nya yang masih kecik-kecil.

Dan ak tentang keinginan anaknya yang saat lebaran ini pingin di beliin minuman bersoda dan makan daging rendang karena selama ini kalau lebaran bisa mencicipi di rumah tetangga, anaknya kepingin kalau minuman dan makanan tersebut ada di rumah mereka sendiri, Akupun agak sedikit tersentak minuman soda yang bagi sebagian orang merupakan minuman keseharian begitu juga daging rendang yang bahkan ada orang yang memakannya setiap hari sebagai lauk makan, memjadi barang langka dan unik bagi sebagian orang lainnya, bahkan makanan dan minuman tersebut menjadi barang mewah bagi mereka.

Ternyata yang kualami beberapa hari ini belum ada apa-apanya di bandingkan dengan apa yang di alami oleh penarik bentor ini, pemotongan dana hari raya sebesar 50% membuatku dan kawan-kawan di tempat keja menjadi gelisah dan uring-uringan sedangkan jika di banding kan dengan bapak penarik bentor ini untuk sehari-hari saja mereka belum tentun mencukupi apalagi memkirkan untuk lebaran dengan berbagai impiannya.

Ada sesuatu yang ingin meledak di dalam dada ini, mulai panas kurasa mata ini, Allah hari ini memberikan pelajaran yang berarti di antara rinai hujan, ku cabut 2 lembar uang merah bernilai terbesar dengan negeri ini.

"Kak, ini ada hadiah dari kami, semoga keinginan lebaran keluarga kakak bisa terwujud ?' kata ku
"Yang benar dek"jawab penari bentor tersebut seperti tidak percaya

Aku hanya mengangguk, uang pun berpindah ke genggamannya, mukanya yang berseri-seri kulihat seperti orang mendapat sekarung emas dan sekotak berlian, dadaku yang bergemuruh seketika mereda, tetapi air mata ini mulai tertumpah, ku berlari ke tengah derasnya hujan sambil mengendarai motorku, membiarkan rinai ini bersatu dengan tangisku.

Kulihat penarik bentor mulai menarik penumpang perempuan dari spionku, ternyata jawaban Allah itu mudah kegalauan ini di obati dengan BERBAGI yang membuatku bisa berdamai dengan hati ini.

You Might Also Read

0 comment

Like us

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Categories Dhinisa Journey